HARIAN DISWAY - Arroyan Pram, content creator yang sekaligus mahasiswa Chaoyang University, Taiwan, menanamkan sebuah pengingat untuk dirinya bahwa, "Comparison is the thief of joy" (membandingkan diri dengan orang lain adalah awal hilangnya sukacita).
Kata-kata yang acap dinisbahkan kepada Theodore Roosevelt tersebut memang dipetuahkan sebelum adanya media sosial. Tapi, tetap sangat dan malah makin relevan dengan kondisi sekarang, di mana tidak sedikit orang terganggu kesehatan mentalnya lantaran mengikuti standar yang dipatok orang lewat ruang pamer medsosnya.
Padahal, setiap orang punya takaran dan waktu kebahagiaannya masing-masing. Mengantongi duit tak berseri tentu membahagiakan. Namun, kalau Anda ingin secepat mereka yang naik jet pribadi sambil bilang "kekayaan bukanlah tentang banyaknya harta, tapi hati yang selalu bersyukur", kemungkinan besar Anda tak akan bisa --kecuali ada orang yang ingin menjadikan Anda sebagai "tukang cuci".
Makanya, ada yang bilang, kita hanya boleh mendongak ke atas kalau terkait dengan kebaikan yang bisa kita lakukan. Misalnya, kita "iri" pada mereka yang jiwa kemanusiaannya lebih baik ketimbang kita, dan kita berusaha untuk mengejarnya.
Walakin, bila itu berkaitan dengan kekayaan, kita mesti banyak-banyak melihat ke bawah, kepada mereka yang tidak semujur kita. Ini supaya kita lebih bisa berempati dan merasa cukup.
Intinya, sebagaimana yang diingatkan pepatah Mandarin, "各守其分" (gè shǒu qí fèn): setiap orang punya perannya sendiri-sendiri dan jalani peran itu sesuai dengan porsinya. (*)
Cheng Yu Pilihan Content Creator-Mahasiswa Chaoyang University Taiwan Arroyan Pram: Ge Shou Qi Fen
Sabtu 11-04-2026,07:01 WIB
Editor : Indria Pramuhapsari
Kategori :