Hadirkan Michaela Anselmini, Orasis Art Space Bahas Konservasi dan Restorasi Seni di Indonesia

Senin 13-04-2026,19:49 WIB
Reporter : Ilmi Bening
Editor : Indria Pramuhapsari

Saat ini, program studi khusus S1 Konservasi Seni saat ini bisa ditemukan di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Belum banyak kampus di Indonesia yang memiliki program studi yang spesifik di bidang itu. 

Meski begitu, masih banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam konservasi seni, seperti temperatur, serangga, hingga cat yang mengelupas, jamur, dan lain-lain.

Perubahan iklim di suatu daerah juga mempengaruhi penanganan restorasi seni karena berkaitan dengan kelembaban dan temperatur.

BACA JUGA:Workshop Pipe Flowers jadi Ajang Ekspresi Seni Pengunjung Swarabaya Fest di Balai Pemuda

BACA JUGA:Selebgram Eunike dan Seniman Ziarah Makam Gombloh dan Cak Durasim dalam Rangka Hari Musik Nasional 2026

Iklim menjadi salah satu faktor yang tidak bisa dihindari. Kuncinya adalah tetap dengan memberikan pemeliharaan yang baik. "Dengan begitu, semuanya tetap bisa teratasi meski cuacanya sangat buruk," tambahnya.

Pemeliharaan juga berarti memperhatikan kebutuhan restorasi di suatu tempat. Misalnya, memberikan alat penyerap kelembaban, serta hanya butuh air conditioner (AC) atau kipas angin.

Petugas juga perlu melakukan pengecekan rutin terhadap karya seni. Bersihkan dari debu, juga perbaiki bingkai lukisan yang sudah rusak.

"Mungkin banyak orang membuang bingkai lama dan membuat yang baru. Namun, sebagai orang Italia, kami tidak membuang bingkai yang asli,” terang Anselmini di hadapan para peserta. 

BACA JUGA:Pameran Seni The Right to Slow Down di Galeri Tujujati Sadarkan Pentingnya Ambil Jeda

BACA JUGA:Pameran Seni Expression in Colour, Wujud Kebebasan Berekspresi Anak Tanpa Gawai

Alasan tidak dibuang ialah ada patina yang mampu memberikan nilai lebih dalam lukisan tersebut. Semuanya dibiarkan terpajang sesuai bentuk aslinya. Begitu pula dengan lukisan yang catnya mulai mengelupas.

"Restorasi pada lukisan bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dalam waktu seminggu. Kita harus mencocokkan warna untuk memperbaikinya sehingga bisa diperbaiki persis seperti semula," tegas Anselmini. 

Lewat diskusi tentang restorasi karya seni itu, pengunjung diajak memahami bahwa perawatan dapat dilakukan dengan menyesuaikan kondisi lingkungannya supaya awet dan dapat dinikmati di tahun-tahun berikutnya.

Sekaligus, meningkatkan perhatian terhadap profesi yang bergerak di bidang konservasi seni.

BACA JUGA:Aksera Gelar Pameran Seni Bertajuk Jam Kos00ng, Gaungkan Kebebasan Senyap

Kategori :