Janji nang Pantai Klayar, Jangan Tinggal Janji

Minggu 19-04-2026,11:17 WIB
Oleh: Suryanto*

Ini bukan sekadar soal memilih rute. Ini soal arah konektivitas yang perlu dibaca jujur. Pacitan seolah berada di Jawa Timur, tetapi denyut mobilitasnya dalam banyak hal justru lebih tersambung ke Jawa Tengah. 

Jika itu dibiarkan hanya menjadi obrolan pelancong, pemerintah kehilangan satu bahan evaluasi penting. Konektivitas wisata tidak boleh dibaca hanya dari peta administratif. Ia harus dibaca dari pengalaman nyata orang yang datang. Sebab, wisata tidak hidup dari slogan. Wisata hidup dari keterhubungan. 

BACA JUGA:Museum SBY*ANI Pacitan Pasang 416 Panel Surya

BACA JUGA:Polisi Pacitan Pemerkosa Tahanan Perempuan Ditetapkan Tersangka

Namun, saya tidak ingin melihat Pacitan hanya dari sisi keluhan. Justru di tengah segala keterbatasan itu, saya melihat satu kekuatan yang membuat daerah tersebut istimewa: ekonomi lokalnya masih hidup. 

Saya menemukan penginapan murah dengan kondisi yang lumayan bersih. Itu terlihat sederhana, tetapi justru di sinilah daya tarik Pacitan yang sesungguhnya. Wisatanya belum sepenuhnya dikuasai pemain besar. 

Masih ada ruang hidup bagi warga lokal. Masih ada denyut ekonomi desa yang bergerak melalui penginapan rakyat, warung makan, parkir warga, jasa kecil, dan usaha-usaha yang langsung bersentuhan dengan wisatawan.

Artinya, Pacitan tidak hanya indah. Ia juga punya peluang besar untuk menjadi model wisata yang menghidupkan desa. BUMDes semestinya masuk di titik itu, bukan sebagai pajangan kelembagaan, melainkan sebagai motor ekonomi wisata. 

Homestay rakyat, kebersihan kawasan, pengelolaan parkir, toilet umum, promosi digital, hingga oleh-oleh khas seharusnya bisa dikelola lebih serius agar manfaat wisata benar-benar berputar di masyarakat setempat. Pacitan tidak harus buru-buru menjadi destinasi mewah. 

Yang lebih penting, ia menjadi destinasi yang tertata, nyaman, dan memberikan keuntungan nyata bagi warga.

Ada satu pengalaman lagi yang justru mempertegas besarnya potensi Pacitan: tiga hari di sana ternyata tidak cukup. Itu bukan kalimat basa-basi wisatawan. Itu penanda penting. Selalu ada pantai lain yang belum didatangi, sudut lain yang belum dinikmati, suasana lain yang belum selesai diresapi. 

Pacitan bukan destinasi singgah yang habis dalam beberapa jam. Ia punya kapasitas membuat orang ingin tinggal lebih lama. Dari sudut pandang pariwisata, itu luar biasa. Makin lama wisatawan tinggal, makin besar uang yang berputar di penginapan, rumah makan, transportasi lokal, UMKM, dan jasa masyarakat.

Dengan kata lain, Pacitan bukan hanya punya daya tarik kunjungan. Pacitan punya daya tahan kunjungan. Dan, di sanalah saya teringat Didi Kempot. Nama Pantai Klayar bukan hanya terkenal karena pemandangannya, melainkan juga karena hidup dalam lagu, dalam kenangan, dalam rasa. 

Janji nang Pantai Klayar bukan sekadar lirik romantis. Ia seperti metafora yang pas untuk seluruh Pacitan: ada janji besar yang tersimpan di sana. Janji keindahan. Janji kenangan. Janji untuk kembali. Tetapi, janji itu jangan dibiarkan tinggal janji.

Jangan biarkan orang hanya pulang membawa dua kalimat yang bertabrakan: ”Pacitan indah sekali, tetapi jalannya luar biasa berat”. 

Jangan biarkan wisatawan mengagumi pantainya sambil mengeluhkan aksesnya. Jangan pula biarkan warga lokal hanya menjadi penonton dari ramainya kunjungan, tanpa sistem yang membuat ekonomi mereka tumbuh lebih kuat dan lebih teratur.

Kategori :