DALAM konteks negara-bangsa sekarang, energi terbarukan bukan sekadar energi alternatif hijau. Namun, juga instrumen kedaulatan energi yang berfungsi mengurangi ketergantungan impor enegi fosil.
Jika energi fosil acap kali membuat negara-bangsa bergantung pada rantai pasok global yang volatile, energi terbarukan memungkinkan pemanfaatan sumber-daya nasional (air, matahari, angin, geotermal, dan lain-lain).
Di samping itu, energi terbarukan merupakan instrumen geopolitik baru. Dalam hal ini, menggantikan politik minyak menjadi politik teknologi dan mineral kritis. Pun, energi terbarukan menjadi fondasi ekonomi masa depan. Karena berfungsi sebagai instrumen penopang industri hijau, elektrifikasi, dan ekonomi digital.
BACA JUGA:Prabowo Temui Macron di Paris setelah dari Rusia, Bahas Alutsista hingga Energi Terbarukan
BACA JUGA:Pemkab Pacitan Akan Genjot Sumber Energi Terbarukan Untuk Ecotourism
Jadi, secara struktural, energi terbarukan adalah bagian dari proses transformasi negara-bangsa menuju ke arah sistem low-carbon economy dan post-fossil state. Oleh sebab itu, kehadiran energi terbarukan amat diperlukan sekarang maupun di masa depan. Ditambah lagi dengan dorongan utama terkait mitigasi krisis iklim.
Seperti diketahui, emisi dari energi fosil adalah penyumbang utama perubahan iklim atau pemanasan global. Tanpa transformasi dan transisi energi, niscaya risiko sistemik perubahan iklim meningkat.
Dampaknya berwujud bencana, migrasi, dan krisis tanaman pangan. Dorongan lain terkait ketahanan energi, yaitu mengurangi ketergantungan pada impor energi fosil yang amat rentan terhadap fluktuasi harga global dan akibat konflik geopolitik. Beda dengan energi terbarukan yang bersifat nasional dan atau terdesentralisasi.
BACA JUGA:Wakil Gubernur Jatim Sorot Potensi dan Kendala Energi Terbarukan di Jawa Timur
BACA JUGA:4 Sumber Daya Energi Terbarukan di Indonesia
Faktor pendorong berikutnya adalah transformasi dan efisiensi ekonomi jangka panjang. Yaitu, perekonomian global bergerak ke arah digitalisasi, elektrifikasi (EV, smart grid), dan ekonomi hijau.
Negara-bangsa yang terlambat bertransformasi akan tertinggal dalam rantai nilai global. Apalagi jika menghitung efisiensi. Sebab, biaya teknologi energi terbarukan terhitung mulai turun. Menjadikannya kompetitif bila dibandingkan dengan biaya energi fosil.
Kalau dihitung juga dampak kerusakan lingkungan dari eksplorasi dan pemakaian energi fosil, pemakaian energi terbarukan terhitung amat murah karena tak ada dampak kerusakan lingkungan masa sekarang dan masa depan.
Sekalipun tidak mungkin instan, penting untuk mengimajinasikan perihal substitusi energi fosil ke energi terbarukan. Setidaknya, secara teknis amat dimungkinkan. Namun, secara operasional, diperlukan masa transisi yang kompleks.