Gedung Putih menyebut IRGC ”segerombolan perompak”. Teheran menyebut blokade AS ”pembajakan terang-terangan”. Kapal-kapal dunia melintas dengan napas tertahan, tidak tahu apakah mereka akan tiba di pelabuhan tujuan atau diseret ke pengadilan revolusi.
BACA JUGA:Tak Hanya Selat Hormuz, Ini 5 Jalur Minyak Paling Krusial Dunia, Ada Selat Malaka!
BACA JUGA:Indonesia Tolak Pungutan di Selat Hormuz, Tegaskan Prinsip Kebebasan Navigasi
Saya teringat seorang kawan lama, pensiunan kapten kapal yang menghabiskan hari tua di Buleleng. Ia pernah berkata, ”di laut, kita hanya takut kepada Tuhan. Kepada badai. Sekarang kita harus takut kepada manusia juga.”
Juru bicara Gedung Putih menyatakan, penyitaan itu bukan pelanggaran gencatan senjata karena ”ini bukan kapal Amerika Serikat, ini bukan kapal Israel”. Sebuah logika yang hanya bisa lahir dari otak geopolitik yang sudah kehabisan sopan santun. Gencatan senjata rupanya hanya berlaku untuk sekutu. Sisanya silakan mati sendiri, rasakan sendiri dinginnya moncong senapan IRGC.
Lalu, Trump berbicara. Presiden yang rambutnya selalu menjadi misteri bagi ilmu fisika itu melontarkan kalimat paling jujur yang pernah keluar dari mulutnya: ”Blokade lebih menakutkan bagi mereka daripada bom. Mereka sudah biasa dibom. Blokade inilah yang mereka benci.”
Di ruang kuliah saya di Universitas Udayana, saya sering mengajarkan bahwa perang modern bukan lagi tentang menghancurkan gedung. Ia tentang waktu. Ia tentang siapa yang lebih dulu kehabisan napas.
BACA JUGA:Selat Hormuz Memanas Lagi, IRGC Tembaki Kapal Tanker yang Melintas
BACA JUGA:Iran Tutup Selat Hormuz Lagi, Trump Merasa Diperas
Trump tepat satu kali ini: blokade adalah algojo yang tidak bersuara. Ia tidak meninggalkan kawah. Ia tidak menewaskan ratusan orang dalam satu dentuman. Ia mencekik pelan-pelan, mematikan sumur minyak, mengeringkan pendapatan, membuat sebuah bangsa merangkak ke arah kematian ekonominya sendiri.
Maka, Iran merespons dengan cara yang paling Iran: penyanderaan. Jika minyak kami tidak bisa keluar dari selat ini, selat ini harus mati untuk semua orang. Itu logika rudal di Vanak Square. Itu logika tameng manusia di sekolah-sekolah. Itu logika putus asa yang dibungkus dengan bendera.
Oh, betapa Luffy akan menangis melihat itu. Kapten Topi Jerami tersebut berlayar mencari harta karun, bertarung melawan Pemerintah Dunia yang korup, membebaskan negeri-negeri tertindas.
Di selat itu tidak ada yang membebaskan. Yang ada hanya dua armada raksasa saling klaim sebagai penegak keadilan, masing-masing dengan logo di layar, masing-masing dengan pistol di pinggang.
Para nakhoda kapal kargo dunia kini seperti kru tak bernama yang terjebak di antara pertempuran Yonkou. Bedanya, Shanks tidak akan menembaki kapal sipil tanpa peringatan.
MSC, perusahaan kontainer terbesar di planet ini, memilih diam. Dua kapalnya disita. Puluhan krunya disandera. Tidak ada pernyataan pers. Hanya sunyi yang memekakkan.
Di dunia yang terbelah ini, raksasa pun harus memilih: kehilangan pasar Iran atau kehilangan pasar Amerika Serikat? Tidak bisa memilih, mereka memilih untuk tidak bersuara, membeku seperti karakter latar yang tidak diberi dialog oleh Oda.