Iran: Perang dengan AS Kemungkinan Pecah Lagi

Sabtu 02-05-2026,20:04 WIB
Reporter : Taufiqur Rahman
Editor : Taufiqur Rahman

HARIAN DISWAY - Seorang perwira militer senior Iran menyatakan pada hari Sabtu bahwa pertempuran baru dengan Amerika Serikat (AS) "kemungkinan besar" akan terjadi. Pernyataan ini muncul hanya beberapa jam setelah Presiden Donald Trump menyatakan ketidakpuasannya terhadap proposal negosiasi yang diajukan oleh pihak Iran.

Iran telah menitipkan draf perdamaian baru kepada Pakistan untuk disampaikan pada AS pada Kamis malam kemarin. Meskipun media pemerintah melaporkan pengiriman draf tersebut, detail mengenai isinya tidak diungkapkan kepada publik.

Konflik bersenjata yang dimulai oleh Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu sebenarnya telah ditangguhkan sejak 8 April 2026. Hingga saat ini, baru satu putaran perundingan damai yang dilakukan di Pakistan. Itupun gagal membuahkan kesepakatan damai. 

"Pada saat ini saya tidak puas dengan apa yang mereka tawarkan," ujar Trump kepada wartawan. Ia menuding mandeknya pembicaraan tersebut disebabkan oleh adanya perselisihan besar di dalam kepemimpinan Iran.

BACA JUGA:Gema di Selat Hormuz, Getaran di Nusantara: Menakar Dampak Eksistensial Agresi terhadap Iran bagi Indonesia

BACA JUGA:Menlu Iran Temui Putin di Rusia, Perundingan dengan AS Masih Menggantung

Trump juga memberikan pilihan retoris terkait kelanjutan konflik ini. "Apakah kita akan menghancurkan mereka serta menghabisi mereka selamanya — atau apakah kita ingin mencoba dan membuat kesepakatan?" tuturnya. Ia menambahkan bahwa dirinya lebih memilih untuk tidak mengambil opsi pertama atas dasar kemanusiaan.

Menanggapi situasi tersebut, Mohammad Jafar Asadi, tokoh senior dalam komando pusat militer Iran, memberikan peringatan pada Sabtu pagi. Melalui kantor berita Fars, ia menegaskan bahwa pembaruan konflik antara kedua negara sangat mungkin terjadi.


Menlu Iran Abbas Araghchi berbincang dengan pejabat Rusia di lounge Bandara St. Petersburg sambil menunggu jadwal bertemu dengan Presiden Vladimir Putin -Tehran Times-

"Bukti telah menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak berkomitmen pada janji atau perjanjian apa pun," tegas Asadi.

Perang terbuka antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran pecah pada 28 Februari 2026 melalui operasi militer besar-besaran yang dinamakan Operation Epic Fury.

Selama pertempuran yang berlangsung kurang lebih dua bulan, wilayah tersebut mengalami guncangan hebat, termasuk terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran pada awal Maret, yang kemudian memicu serangan balasan luas dan blokade di Selat Hormuz.

BACA JUGA:Trump Perpanjang Gencatan Senjata dengan Iran, Blokade Laut Tetap Dipertahankan

BACA JUGA:Nilai Strategis Selat Hormuz bagi Iran dan Negara Teluk


Upaya de-eskalasi mulai terlihat saat kedua belah pihak menyepakati gencatan senjata bersyarat selama dua minggu yang dimulai pada 8 April 2026. Kesepakatan ini membuka jalan bagi perundingan damai putaran pertama di Islamabad, Pakistan, pada 11 April 2026.

Kategori :