Perusahaan juga mengganti pipa utama CPA sepanjang 350 meter, melakukan retrofit Distributed Control System (DCS). Serta pembaruan Fire & Gas System guna meningkatkan keamanan operasional fasilitas.
General Manager PHM Setyo Sapto Edi menjelaskan seluruh rangkaian pekerjaan dilakukan dengan penerapan standar HSSE (Health, Safety, Security, and Environment) yang ketat.
BACA JUGA:Pertamina Hulu Energi Yakin Migas Tetap Jadi Pilar Ketahanan Energi Nasional
BACA JUGA:Ditunjuk Jadi Komisaris Utama Pertamina Hulu Energi, Denny JA Ingatkan tentang Kemandirian Energi
Kegiatan full shutdown yang kompleks tersebut melibatkan hampir 1.000 personel dengan operasi kerja 24 jam, penerbitan 242 izin kerja, pelaksanaan 45 hot work naked flame, dan total 241.176 jam kerja.
“Seluruh pekerjaan dijalankan dengan pengawasan ketat mulai dari proses perizinan, mitigasi risiko, hingga pengendalian pekerjaan berisiko tinggi demi menjaga keselamatan pekerja, fasilitas, dan lingkungan sekitar,” ucapnya.
Melalui kolaborasi lintas fungsi dan penerapan aspek keselamatan secara disiplin, program tie-in Handil Rejuvenation berhasil diselesaikan tanpa recordable injury. Bahkan, pekerjaan rampung satu hari lebih cepat dari target awal dengan realisasi kehilangan produksi yang lebih rendah dibanding estimasi sebelumnya.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti komitmen PHM dalam menjaga keandalan fasilitas produksi migas nasional sekaligus mendukung ketahanan energi Indonesia secara berkelanjutan. (*)