Haji: Kongres Politik Akbar Umat Islam Sepanjang Zaman

Sabtu 09-05-2026,05:33 WIB
Oleh: Anang Fahmi*

DARI rumah Al-Arqam hingga Piagam Madinah, dari Perjanjian Aqabah hingga gejolak Iran vs AS-Israel, ibadah haji menyimpan arsitektur gerakan yang tak pernah padam.

Haji bukan sekadar ritual. Ia adalah deklarasi politik paling tua dalam sejarah Islam. Ketika jutaan muslim dari penjuru bumi berkumpul di Makkah, memakai pakaian ihram yang sama, berdiri di padang Arafah yang sama, mereka sesungguhnya sedang menghidupkan kembali sebuah desain gerakan yang dirancang Rasulullah SAW lebih dari empat belas abad lalu.

RUMAH AL-ARQAM: MADRASAH POLITIK PERTAMA

Sebelum ada mimbar, sebelum ada masjid, Rasulullah SAW mendirikan pusat pengaderan pertama di rumah Al-Arqam ibn Abi Al-Arqam di kaki Bukit Shafa, Makkah. Di sanalah, selama tiga tahun dakwah sirriyyah (sembunyi-sembunyi), fondasi kader inti Islam diletakkan. 

Ibnu Hisyam dalam Al-Sirah Al-Nabawiyyah mencatat bahwa Ali ibn Abi Thalib, Zaid ibn Haritsah, Abu Bakar, dan generasi sahabat pertama ditempa di rumah bersejarah itu –bukan hanya secara spiritual, melainkan juga secara intelektual dan politis.

BACA JUGA:Haji Ilegal: Ancaman Nyata yang Harus Dibasmi Habis

BACA JUGA:Antara Diskresi dan Kriminalisasi Kebijakan: Praperadilan Kasus Kuota Tambahan Haji 2024

Para kader Al-Arqam dilatih memahami realitas sosial Makkah yang oligarkis. Mereka belajar membaca kuasa, membangun solidaritas, dan menjaga kerahasiaan gerakan. 

Itulah embrio dari apa yang kemudian Ali Syariati sebut sebagai ”ideologi pembebasan Islam” –sebuah gerakan yang mengubah hamba sahaya, pedagang kecil, dan kaum marginal menjadi kekuatan transformatif sejarah.

PERJANJIAN AQABAH: KONTRAK POLITIK LINTAS BATAS

Musim haji adalah waktu pertemuan antarsuku Arab. Rasulullah SAW memanfaatkannya dengan genius. Di musim haji tahun ke-12 kenabian, beliau bertemu secara rahasia dengan 12 orang dari suku Khazraj dan Aus (Yatsrib) di celah bukit Aqabah. Lahirlah Baiat Aqabah Pertama –sebuah perjanjian kesetiaan politik-spiritual yang menandai perluasan dakwah lintas wilayah kekuasaan.

”Mereka berjanji untuk tidak menyekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak, dan tidak mendurhakai Nabi dalam kebaikan.” (Ibn Hisyam, Al-Sirah Al-Nabawiyyah, jilid II).

BACA JUGA:Ketika Penyidikan Kuota Haji Menjadi Labirin

BACA JUGA:Korupsi dan Formalisme Beragama: Kasus Dugaan Korupsi Kuota Haji

Setahun berikutnya, Baiat Aqabah Kedua dihadiri 73 laki-laki dan 2 perempuan. Itu bukan sekadar baiat spiritual. Itu adalah pakta pertahanan dan perlindungan politik. Al-Abbas ibn Abdul Muththalib, paman nabi, hadir sebagai ”saksi diplomatik” mewakili kepentingan Bani Hasyim. 

Kategori :