HARIAN DISWAY - Kabar kepulangan Jose Mourinho ke Real Madrid menjadi sorotan utama seiring hancurnya dominasi klub di kompetisi domestik dan Eropa. Kehadiran The Special One dinilai menjadi solusi instan untuk meredam konflik ego di ruang ganti Los Blancos yang melibatkan para pemain bintang mereka.
Florentino Perez sudah kehabisan kesabaran dan siap melakukan perombakan besar-besaran. Maklum, lini serang mereka mendadak tumpul di saat-saat krusial.
Masalah utamanya bersumber dari Kylian Mbappe dan Vinicius Junior yang tidak bisa kompak di lapangan.
Hubungan taktis kedua bintang itu memang tidak berjalan mulus sejak awal.
Semua bermula pada Musim Panas 2024. Kedatangan Mbappe disambut megah bak pahlawan. Namun, para analis taktik sudah mencium aroma masalah. Posisi favorit Mbappe dan Vinicius itu sama: penyerang sayap kiri.
Masuk ke Paruh Pertama Musim, kekhawatiran itu jadi kenyataan. Di lapangan, keduanya sering kedapatan bertumpuk di wilayah yang sama.
BACA JUGA:Mourinho Balik ke Real Madrid, Ruben Amorim Siap Tukangi Benfica Musim Depan
BACA JUGA:Jose Mourinho Pulang ke Real Madrid, Wesley Franca Masuk Daftar Buruan
Vinicius emoh digeser ke tengah. Akibatnya, Mbappe terpaksa mengalah menjadi striker murni di nomor sembilan. Dia merasa terisolasi, geraknya terkunci.
Puncaknya terjadi pada pertengahan musim. Ego mulai bicara. Di area penalti lawan, mereka lebih sering menembak sendiri daripada mengoper ke rekan setim.
Mbappe memang tetap tajam, bahkan di ambang meraih gelar Pichichi lagi untuk kedua kalinya berturut-turut. Tapi permainan kolektif Madrid hancur.
Hingga akhirnya, di akhir musim, Madrid harus menerima kenyataan pahit: dua tahun beruntun tanpa trofi besar. Publik Santiago Bernabeu mulai jengah melihat statistik mentereng individu yang tidak menghasilkan piala untuk klub.
Jose Mourinho dikabarkan meminta Real Madrid untuk merekrut Marcus Rashford dari Manchester United pada bursa transfer musim panas mendatang-Tangkapan Layar Instagram-
Vinicius seolah kehilangan tandem sehati. Dulu, dia begitu mematikan karena ada Karim Benzema yang pandai membuka ruang.
Atau, ketika Jude Bellingham datang dari lini kedua dan merusak konsentrasi bek lawan. Bahkan sosok seperti Joselu Mato, yang sering masuk dari bangku cadangan, justru bisa menjadi pelayan yang baik bagi lini depan.