Air Berkah dan Api Dharma Waisak, Simbol Kebijaksanaan serta Cinta Kasih bagi Dunia

Sabtu 30-05-2026,22:31 WIB
Reporter : Heni Agusningtiyas
Editor : Taufiqur Rahman

Dua unsur alam, api dan air, menjadi bagian penting dalam rangkaian perayaan Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era (BE) di kawasan Candi Mendut, Kabupaten Magelang. Keduanya bukan sekadar sarana ritual, melainkan simbol mendalam tentang kebijaksanaan, cinta kasih, dan kedamaian yang menjadi inti ajaran Buddha.

Pada Sabtu, 30 Mei 2026, Air Berkah Waisak yang diambil dari Umbul Jumprit, Kabupaten Temanggung, tiba di Candi Mendut sekitar pukul 14.30 WIB. Air tersebut disambut dalam prosesi keagamaan yang khidmat sebelum disemayamkan dan disakralkan bersama Api Dharma yang sebelumnya diambil dari sumber api abadi Mrapen, Kabupaten Grobogan, pada Jumat, 29 Mei 2026.

Ribuan umat Buddha, para bhikkhu Sangha, serta pengurus Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) mengikuti prosesi penyambutan kedua simbol suci tersebut. Setelah didoakan, Air Berkah dan Api Dharma akan dikirab menuju Candi Borobudur untuk digunakan dalam puncak perayaan Tri Suci Waisak pada Minggu, 31 Mei 2026.

Sekretaris Jenderal DPP WALUBI, Bhikkhu Komsai Sumono Mahathera, menjelaskan bahwa Api Dharma melambangkan penerangan batin dan kebijaksanaan yang diajarkan Sang Buddha. Api menjadi simbol cahaya yang mampu mengusir berbagai kegelapan dalam diri manusia.

“Api itu simbol terang. Terang adalah Dhamma, dan Dhamma adalah kebijaksanaan. Kebijaksanaan mampu melenyapkan kegelapan batin, baik kebodohan, kebencian maupun berbagai kekotoran pikiran,” ujarnya.

BACA JUGA:Borobudur Sambut Waisak, Arca Adhi Buddha yang Belum Selesai Kini Ada di Lapangan Kenari

BACA JUGA:Umat Buddha Maitreya Peringati Waisak di Maha Vihara dan Pusdiklat Maitreya, Disertai Prosesi Memandikan Rupang Buddha

Menurut Bhikkhu Komsai, cahaya Api Dharma bukan sekadar nyala fisik, melainkan perlambang tumbuhnya kesadaran dan kebijaksanaan dalam kehidupan manusia. Melalui peringatan Waisak, umat diajak untuk menyalakan terang kebijaksanaan dalam diri agar mampu mengatasi berbagai persoalan kehidupan dengan pikiran yang jernih dan penuh welas asih.


Proses simbolis penyalaan api Dharma di luar halaman Candi Mendut, Magelang dalam rangka perayaan Hari Waisak -Heni Agusningtiyas/Disway Jateng-

Selain Api Dharma, Air Berkah yang diambil dari Umbul Jumprit juga memiliki makna spiritual yang mendalam. Air dipandang sebagai simbol cinta kasih, kesabaran, kesejukan, dan ajaran Dhamma yang mengalir kepada semua makhluk tanpa membeda-bedakan.“Seperti air yang mengalir ke mana-mana, demikian pula kebijaksanaan dan ajaran Buddha yang membawa kesejukan bagi kehidupan,” katanya.

Bhikkhu Komsai menambahkan, dalam ajaran Buddha, unsur tanah, air, api, dan angin merupakan bagian penting dalam perenungan spiritual. Melalui simbol-simbol alam tersebut, manusia diajak memahami hakikat kehidupan sekaligus menjaga keseimbangan hubungan dengan sesama dan alam semesta.

Tahun ini, prosesi penyemayaman Api Dharma dan Air Berkah mengalami penyesuaian karena Candi Mendut sedang menjalani renovasi. Altar dan tempat penghormatan dipindahkan ke area luar candi demi menjaga kelestarian bangunan bersejarah tersebut.

BACA JUGA:Upacara Waisak Umat Buddha Nichiren Shoshu di Vihara Vimalakirti Surabaya, Meneguhkan Jalan Mencapai Kesadaran Buddha

BACA JUGA:Menteri Agama RI Sampaikan Ucapan Selamat Hari Raya Waisak Untuk Umat Buddha di Seluruh Indonesia

“Kita tetap melakukan penghormatan dan doa di kawasan Candi Mendut, tetapi tidak masuk ke bagian dalam karena sedang direnovasi. Ini demi menjaga kelestarian candi untuk jangka panjang,” jelasnya.

Kategori :