HARIAN DISWAY - Sumpit dikenal sebagai alat makan utama di berbagai negara Asia Timur. Namun, fungsinya jauh melampaui sekadar pengganti garpu dan sendok.
Di Tiongkok, sumpit dikenal dengan sebutan kuaizi. Alat makan itu menjadi bagian penting dari identitas budaya. Bahkan telah bertahan selama ribuan tahun.
Sejarah sumpit dapat ditelusuri hingga masa Dinasti Shang. Berlangsung sekitar abad ke-16 hingga ke-11 sebelum Masehi.
Terdapat temuan arkeologis berupa sumpit perunggu kuno di sejumlah makam. Itu turut memperkuat bukti panjangnya perjalanan alat makan tersebut. Keberadaannya mewarnai sejarah peradaban manusia.
BACA JUGA:Dewa Kekayaan Caishen, Simbol Kemakmuran dan Keberuntungan dalam Budaya Tiongkok
Seiring perkembangan zaman, sumpit juga membentuk berbagai tradisi dan tata krama makan. Di berbagai tempat tradisi itu masih dipraktikkan hingga saat ini.
Pemakaian sumpit sebagai alat makan diyakini berasal sejak masa Dinasti Shang (16-11 SM).--magnific.com
Teknik dasar menggunakan sumpit memerlukan posisi tangan tertentu. Satu batang sumpit berfungsi sebagai penyangga.
Dijepit di antara ibu jari dan jari tengah. Sementara batang lainnya digerakkan menggunakan jari telunjuk. Yakni untuk menjepit makanan.
Bagi sebagian orang, penggunaan sumpit memang membutuhkan latihan. Namun setelah terbiasa, alat makan itu dinilai praktis dan nyaman digunakan.
BACA JUGA:Seniman Muda Tiongkok Ubah Persepsi Logam Lewat Karya Kontemporer di Paris
BACA JUGA:Pameran Huafang Zhai di Beijing Hidupkan Kembali Spirit Lanskap Tradisional Tiongkok
Selain teknik penggunaan, etika saat memakai sumpit juga menjadi bagian penting yang harus diperhatikan.
Salah satu larangan yang paling dikenal adalah menancapkan sumpit secara tegak lurus di dalam semangkuk nasi.