BACA JUGA:Dewan Komisaris Pertamina Berbagi Inspirasi dan Dukung Pendidikan di Karangasem
BACA JUGA:Dewan Komisaris Pertamina Tinjau Keandalan Fasilitas Operasi dan Stabilitas Pasokan Energi di Bali
Pertamina juga terus memaksimalkan potensi energi panas bumi dengan kapasitas mencapai 1,4 gigawatt melalui pengembangan proyek di Hululais dan Lahendong. Salah satu proyek strategis yang saat ini dikembangkan adalah Geothermal Lahendong Unit 7 dan 8.
Proyek tersebut telah masuk dalam Green Book Kementerian PPN/Bappenas sehingga berpeluang memperoleh dukungan pembiayaan dari lembaga keuangan internasional, termasuk World Bank. Dukungan tersebut diharapkan mampu mempercepat pengembangan kapasitas panas bumi nasional dan memperkuat bauran energi bersih Indonesia.
Selain itu, Pertamina menargetkan penurunan emisi metana sebesar 40 persen dibandingkan tingkat emisi dasar tahun 2021. Upaya tersebut dilakukan melalui program zero flaring dan kampanye Leak Detection and Repair Campaign (LDAR).
Program LDAR berhasil menekan emisi metana yang tidak terkendali hingga 30 hingga 39,7 persen. Keberhasilan tersebut terlihat di sejumlah wilayah operasi, termasuk PEP Donggi Matindok yang mampu mengurangi kebocoran hingga 68,4 persen pada 2025.
BACA JUGA:Pertamina Salurkan Lebih dari 4.400 Hewan Kurban pada Iduladha 2026
BACA JUGA:Pertamina Drilling dan Halliburton Indonesia Jalin Kerja Sama Strategis
Capaian serupa juga ditunjukkan JOB Pertamina-Medco E&P Tomori yang berhasil menurunkan emisi metana sekitar 30 persen, serta PT Badak NGL yang mampu menekan emisi CH4 hingga 38,7 persen pada 2025.
Melalui berbagai inisiatif tersebut, Pertamina terus memperkuat perannya sebagai perusahaan energi nasional yang tidak hanya menjaga ketahanan energi, tetapi juga menjadi motor penggerak transisi menuju ekonomi rendah karbon dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. (*)