AS Tembak Jatuh Dua Drone Iran di Selat Hormuz

Minggu 07-06-2026,14:53 WIB
Reporter : Taufiqur Rahman
Editor : Taufiqur Rahman

HARIAN DISWAY — Amerika Serikat (AS) menyatakan telah menembak jatuh dua drone milik Iran yang dinilai mengancam wilayah Selat Hormuz pada Minggu, 7 Juni 2026. Insiden ini menjadi eskalasi kekerasan terbaru di saat konflik telah memasuki hari ke-100 tanpa ada tanda-tanda akan berakhir.

Bentrokan ini adalah lanjutan dari saling berbalas serangan antara AS dan Iran di sekitaran wilayah Selat Hormuz. Sebelumnya pada Rabu hingga Jumat, 5 Juni 2026, Iran melancarkan sejumlah serangan yang menyasar pangkalan AS yang ada di negara-negara teluk seperti Bahrain dan Kuwait. 

Sementara itu, upaya negosiasi damai selama berminggu-minggu antara AS dan Iran sejauh ini gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik atau membuka kembali jalur perairan vital tersebut. Selat Hormuz merupakan titik rahasia penting (chokepoint) bagi pengiriman minyak dan gas di kawasan Teluk.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan bahwa pihaknya menghancurkan dua drone Iran yang mengancam lalu lintas maritim internasional di Selat Hormuz. Tindakan ini dilakukan beberapa jam setelah CENTCOM mengumumkan serangan terhadap empat drone lain dan situs radar pengawasan pesisir pantai.

BACA JUGA:Iran Luncurkan Rudal Balistik ke Bahrain dan Kuwait, Incar Pangkalan Udara AS

BACA JUGA:Parlemen AS Desak Trump Tarik Pasukan dari Perang Iran

Menanggapi tindakan tersebut, Teheran meluncurkan salvo rudal ke arah negara sekutu AS, yaitu Bahrain dan Kuwait pada Sabtu, 6 Juni 2026. Serangan ini memicu respons keras dari negara monarki Teluk tersebut dan menambah tekanan pada gencatan senjata rapuh yang sebelumnya telah disepakati pada 8 April 2026.

Menurut keterangan CENTCOM, Iran meluncurkan tujuh rudal balistik ke arah Bahrain dan Kuwait, dengan rincian enam rudal berhasil dicegat dan satu rudal jatuh sebelum mencapai target. Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan bahwa mereka menargetkan pangkalan musuh di wilayah tersebut dengan rudal.

Pemerintah Bahrain, yang menjadi markas Armada Kelima AS, mengecam serangan terbaru ini sebagai agresi yang nyata. Sementara itu, pihak Kuwait menyatakan bahwa serangan tersebut merepresentasikan eskalasi yang berbahaya.

BACA JUGA:Memanas! Iran Ancam Buka Front Baru dan Tutup Bab El-Mandeb

Di ibu kota Bahrain, Manama, seorang jurnalis AFP melaporkan terdengar tiga kali suara ledakan bersamaan dengan bunyi sirene serangan udara. Kondisi serupa terjadi di Kuwait, di mana jurnalis AFP lainnya mendengar ledakan berulang di dekat bandara internasional, lokasi yang sebelumnya juga terkena serangan pada Rabu, 3 Juni 2026 dan menewaskan satu orang.

"Kami terbangun karena ledakan besar," ujar Reem, seorang ibu dua anak di Kuwait. "Anak-anak saya sangat ketakutan, dan saya tidak bisa menenangkan mereka," katanya.(*)

Kategori :