SECARA bergelombang jamaah haji Indonesia telah tiba di tanah air. Kita patut menyambut gembira kepulangan orang-orang terpilih yang baru saja mendapatkan panggilan Allah SWT. Ibadah haji adalah ibadah istimewa karena tidak semua orang bisa melaksanakannya.
Dengan demikian, mereka yang baru pulang melaksanakan ibadah haji patut diposisikan sebagai sosok istimewa pula. Ia merupakan pribadi pilihan yang telah dinaikkan derajatnya oleh Allah SWT.
Masyarakat Indonesia tentu saja memiliki harapan terhadap para haji yang baru tiba di tanah air. Sebagai sosok istimewa, para haji diharapkan dapat berperan aktif untuk menjadikan Indonesia menjadi lebih baik.
Selama melaksanakan ibadah haji, semoga doa-doa yang mereka lantunkan bukan hanya untuk kepentingan pribadi, melainkan juga untuk bangsa.
BACA JUGA:Tegas dan Terstruktur: Kebijakan Saudi Lawan Overstay Jamaah Haji 2026
BACA JUGA:Tantangan Kampung Haji Indonesia
Artinya, kesadaran yang dibangun para haji hendaknya merupakan kesadaran yang bersifat komunal, bukan kesadaran individual.
Perjalanan sejarah telah membuktikan bahwa para haji memiliki kontribusi besar terhadap bangsa Indonesia, mulai memperjuangkan, mempertahankan, hingga mengisi kemerdekaan.
Peran Sejarah Para Haji
Ibadah haji masyarakat Indonesia bisa dilacak ke masa kolonial. Pada masa itu perjalanan ibadah haji merupakan perjalanan yang sulit dan memakan waktu yang sangat lama. Mereka yang berhasil menjalankan ibadah haji tidak bisa langsung pulang seperti sekarang.
Sebagian dari mereka bahkan sengaja berlama-lama tinggal di Tanah Suci karena selain berniat melaksanakan rukun Islam kelima, sekaligus juga belajar agama.
BACA JUGA:Polemik Fatwa Pengalihan Dam Haji Tamatuk ke Indonesia
BACA JUGA:Haji Ilegal: Jalan Pintas yang Berujung Petaka, Negara Harus Tegas dan Tuntas
Persinggungan yang lama dan intens para haji Indonesia dengan dunia Arab telah mengubah cara pandang terhadap nasib yang tengah dialami oleh bangsanya, yaitu sebagai jajahan Belanda.
Saat para haji pulang ke tanah air, baik yang pulang pada tahun yang sama maupun yang telah lama bermukim, menjadi lebih fanatik terhadap agama yang dianut serta lebih kritis terhadap penjajah Belanda.