Tur di Tate Modern Tantang Stereotip Seni Afrika

Selasa 23-06-2026,09:00 WIB
Reporter : Guruh Dimas Nugraha
Editor : Guruh Dimas Nugraha

Mereka selama ini dinilai kurang mendapat sorotan di institusi seni Barat. “Ini tentang menghadirkan keberadaan mereka. Saya ingin membuat seni terasa dekat. Dan mudah dipahami siapa saja. Tanpa membuat orang merasa asing,” katanya.

Salah satu karya yang menarik perhatian dalam tur tersebut adalah Intolerance karya seniman Mali, Abdoulaye Konaté.

BACA JUGA:Pameran Lukisan NdugHal Karya Daniel Kho, Ungkap Dinamika Kehidupan Dari Proses hingga Pencerahan

BACA JUGA:Daniel Kho Bakal Suguhkan Karya Seni Aliran Mboh-isme dalam Pameran ndugHal

Karya itu dibuat dari gabungan tekstil berwarna, sandal jepit, selongsong peluru, hingga lembaran kertas yang membentuk komposisi abstrak. Menyerupai tubuh manusia yang terbaring.

Nadia tidak memberi tafsir tunggal. Melainkan mengajak peserta tur membaca sendiri makna dari objek-objek yang muncul dalam karya tersebut.

Perjalanan berlanjut menuju karya Sentinel. Milik seniman Afrika-Amerika Simone Leigh. Patung hitam mengilap itu menampilkan figur perempuan. Sosoknya menyatu dengan bentuk menyerupai bangunan atau ruang perlindungan.

Nadia menyebut bahwa karya itu membawa gagasan feminisme kulit hitam. Juga menghadirkan tubuh perempuan. Sebagai simbol kekuatan sekaligus tempat berlindung.


Karya seniman Mali Abdoulaye Konaté yang berjudul 'Intolerance'.--Bbc

BACA JUGA:Pameran Huafang Zhai di Beijing Hidupkan Kembali Spirit Lanskap Tradisional Tiongkok

BACA JUGA:Pameran Lukisan Monochrome Garis Gathuk Hadirkan 62 Karya Perupa dari Tujuh Kota

“Figur-figur ini tampak megah, kuat, bahkan terasa mengintimidasi,” jelasnya. Menurutnya pendekatan semacam itu menjadi bagian dari upaya yang lebih luas. 

Yakni untuk menantang warisan kolonial. Yang selama ini memengaruhi cara museum menampilkan karya seni Afrika.

Dia menilai sejarah kolonial itu sangat berperan. Turut menentukan karya mana yang dianggap layak disimpan dan dipamerkan.

“Dengan berdiri di depan sebuah karya dan berbicara tentangnya, kita bisa memberi kehidupan baru pada karya itu. Dan mengubah bagaimana masa depannya dipahami,” katanya.

BACA JUGA:Pameran di Xinjiang Ungkap Perjalanan Budaya Gerabah Prasejarah dari Sungai Kuning

Kategori :