Menghuni Bumi yang Dinamis

Selasa 23-06-2026,23:53 WIB
Oleh: Kadek Hendrawan Palgunadi*

BACA JUGA:Manusia Ditumbuhkan dari Tanah Bumi

BACA JUGA:Siapa Manusia Pertama di Bumi?

Analisis geofisika menunjukkan rentetan gempa itu bersifat dangkal dan terjadi pada patahan cabang di lempeng atas (upper-plate splay faults). Alih-alih melepaskan tegangan secara bertahap dan aman, akumulasi gempa itu justru mentransfer tegangan Coulomb sekitar 0,3 hingga 0,4 bar ke zona megathrust di bawahnya sehingga secara perlahan menaikkan kematangan bidang gempa utama yang akhirnya pecah pada Juni 2026.

Gempa Sausu di Palu (Mw 6,7): Karakter Ekstensional Dangkal di Luar Jalur Utama

Hanya delapan hari setelah gempa Filipina, tepatnya 16 Juni 2026, pukul 11.27 Wta, Palu kembali berguncang dengan kekuatan Mw 6,7. Bagi masyarakat Sulawesi Tengah, peristiwa itu membangkitkan kembali ingatan akan bencana 2018. 

Namun, secara geodinamika, skenarionya berbeda. Gempa tersebut tidak bersumber dari Sesar Palu-Koro yang dikenal dengan pergerakan mendatarnya, melainkan dari Sesar Sausu, sistem sesar aktif di sebelah timur lembah utama Palu.

Sulawesi terjepit di antara tiga lempeng besar: Sunda, Australia, dan Laut Filipina. Dinamika itu membuat lengan-lengan Pulau Sulawesi berotasi saling menjauh dan memunculkan zona tarikan (ekstensi) lokal. Sesar Sausu mengakomodasi tegangan tarik itu melalui patahan turun (normal faulting), ketika blok kerak ambles secara vertikal.

Meski magnitudonya jauh lebih kecil daripada gempa Sarangani, guncangan di permukaan terasa kuat karena kedalamannya yang sangat dangkal, sekitar 10 hingga 16 kilometer. Dengan jarak redaman yang pendek, energi seismik cepat mencapai permukaan: intensitas mencapai MMI VI-VII di Kota Palu dan MMI V-VI di Kabupaten Sigi. 

Guncangan yang berlangsung lebih dari 1 menit itu memicu evakuasi darurat di RS Samaritan, merobohkan plafon kantor bupati Sigi, meretakkan sejumlah hotel di Palu, dan merusak auditorium Universitas Tadulako. Lebih dari 20 gempa susulan menyusul. Karena sumbernya berupa patahan turun di darat, risiko tsunami praktis nol, tetapi potensi kerusakan struktural bangunan justru tinggi.

Pelajaran untuk Indonesia: Desentralisasi Riset, Investasi Berkelanjutan, dan Mitigasi Berbasis Data

Dua gempa itu memperlihatkan dua wajah ancaman yang sama nyatanya. Satu datang dari laut dalam lewat mekanisme kompresi megathrust yang didahului sinyal gempa beruntun, satu lagi dari sesar darat dangkal yang berada di luar jalur patahan utama. Implikasinya untuk Indonesia jelas, pemerintah daerah tidak bisa lagi menyerahkan seluruh urusan keselamatan tektonik kepada BMKG pusat.

BMKG memegang tanggung jawab pada skala makro-nasional, misalnya merilis peringatan dini tsunami dalam hitungan menit. Tetapi, untuk membaca pergerakan sesar lokal, memetakan indeks kerentanan tanah di kawasan urban, atau mendeteksi blind fault (sesar tersembunyi) di bawah kota besar, daerah perlu mengambil peran yang lebih aktif dengan pendekatan multidisiplin.

Langkahnya bisa dimulai dari riset geofisika dan seismologi lokal melalui pemasangan jaringan seismograf daerah yang lebih rapat, untuk memantau gempa-gempa kecil secara real-time

Data itu kemudian dipadukan dengan analisis geoteknik dan teknik sipil untuk mikrozonasi tanah, memetakan area rawan amplifikasi guncangan, dan memperketat audit ketahanan bangunan. Pada tahap berikutnya, perencana wilayah dan ahli sosial perlu dilibatkan untuk menata ruang kota dan menyiapkan jalur evakuasi yang realistis.

Ada satu hal yang perlu diterima sebagai dasar berpikir bersama: sampai saat ini belum ada teknologi yang mampu memprediksi secara pasti kapan, di mana, dan berapa magnitudo sebuah gempa akan terjadi. 

Karena itu, investasi daerah pada riset dan teknologi pemantauan lokal tidak bisa diperlakukan seperti proyek fisik musiman yang selesai dalam satu-dua tahun anggaran. Investasi itu menuntut komitmen jangka panjang yang dianggarkan secara konsisten.

Kategori :