SITI Nur Jazilah dan Yuvita Tri Rezeki. Siapa yang kenal dua nama itu? Mungkin tidak banyak. Atau hampir tidak ada.
Keduanya akrab dipanggil Lisa dan Vita. Tidak ada hubungan di antara keduanya. Satunya tinggal di Turen, Malang. Satunya di Rancaekek, Bandung.
Namun, keduanya disambungkan oleh peristiwa yang sama. Keduanya menjadi korban kekejaman dan kebrutalan yang tak terbayangkan oleh manusia normal.
Publik Jawa Timur mengenal Lisa sebagai ”Lisa Face-off’’. Dia menjadi korban penganiayaan Mulyono Eko, suaminya sendiri. Lisa disiram air keras tepat di bagian muka. Membuat wajah Lisa rusak total.
BACA JUGA:Profil Pelaku Penyekap, Penggunting Bibir di Bandung: Dua Kunci Sekap
BACA JUGA:5 Fakta Kasus Taufik Hidayat, Pacar Disekap dan Dianiaya 3 Tahun hingga Buta Permanen
Kekejaman berlanjut dengan penyekapan selama dua tahun. Tidak ada orang sekitar yang mengetahui. Atau, tidak ada yang peduli. Orang sekitar menganggapnya sebagai urusan rumah tangga. Urusan pribadi.
Wajah Lisa sudah rusak parah. Mulyono membawa Lisa ke RSUD dr Soetomo di Surabaya. Ia berbohong. Mengatakan bahwa wajah istrinya luka parah terkena cairan kimia pembersih.
Tindak biadab Mulyono akhirnya terbongkar. Lisa menceritakan semua kekejaman yang tidak bisa diterima nalar. Peristiwa itu terjadi pada 2004. Mulyono dipenjara 12 tahun karena kekejamannya.
Kini kekejaman itu berulang. Kali ini lokus berpindah ke Jawa Barat. Korbannya ialah Vita.
BACA JUGA:Penyekapan 3 Tahun Yuvita oleh Taufik di Cinunuk, Bandung: Bibir Digunting Miring
BACA JUGA:Kasus Penyekapan dan Penyiksaan yang Misterius
Selama tiga tahun, sebuah kamar kos di wilayah Cileunyi, Kabupaten Bandung, menjadi saksi bisu runtuhnya martabat seorang manusia. Yuvita Tri Rezeki, 29 tahun, disekap, diisolasi, dan dihujani kekerasan yang melampaui batas kemanusiaan oleh kekasihnya, Taufik Hidayat, 30 tahun.
Ketika akhirnya diselamatkan, Vita ditemukan dalam kondisi yang mengiris hati. Dua matanya buta permanen, enam gigi depan rontok, bibir rusak parah gegara hantaman benda tumpul dan senjata tajam. Kemungkinan bibir Vita dipotong dengan gunting supaya tidak bisa berteriak.
Tragedi itu memunculkan gugatan. Bagaimana mungkin sebuah relasi cinta dan hasrat timbal-balik bisa bermutasi menjadi penyiksaan yang sedemikian sadis.