HARIAN DISWAY - Sejak zaman kedinastian, para pemimpin Tiongkok punya kebiasaan: mencari penyebab kenapa pemerintahan sebelumnya bisa bubar dan apa yang harus dilakukan supaya negara bisa jaya.
Mereka berpendapat, "前代覆辙,可为殷鉴" (qián dài fùzhé, kě wéi Yīn jiàn): kegagalan dinasti-dinasti terdahulu dapat dijadikan cermin untuk berkaca.
Makanya, mereka selalu mengecamkan, "殷鉴不远" (Yīn jiàn bù yuǎn): jika tidak belajar dari sejarah, kesalahan yang sama akan terulang.
Liu Bang, misalnya. Setelah naik takhta, kaisar pertama Dinasti Han ini langsung memerintahkan Lu Jia, cendekiawan ternama yang wafat pada kisaran 170 SM, menulis sebuah kitab yang secara khusus membahas mengapa Dinasti Qin runtuh, mengapa Dinasti Han bangkit, serta mengulas keberhasilan dan kegagalan pemerintahan sepanjang sejarah.
BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Produser Independen Asal Jakarta (Tinggal di Amerika) Naratama: Du Pi Xi Jing
BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Trader Erickjuno Hugomarvell Jacob Brunoulu: Jin Rui Tui Su
Lu kemudian menyusun sebuah kitab, terdiri dari 12 bab, yang diberinya judul Xinyu (新语): Diskursus Baru. Di dalamnya, ia blak-blakan menyebut, "Bukan berarti Dinasti Qin tidak ingin menciptakan pemerintahan yang baik. Tetapi, penyebab kejatuhannya ialah lantaran kebijakannya yang menindas rakyat dan penerapan hukumnya yang kelewat kejam" (秦非不欲为治,然失之者,乃举措暴众而用刑太极故也).
Lantas, Liu Bang mengambil pelajaran dari kehancuran Dinasti Qin yang disebabkan oleh tirannya pemerintahan tersebut dan menetapkan serangkaian kebijakan untuk memperbaiki hubungan antara pemerintah dan rakyatnya.
Zhao Kuangyin pun sama. Tak lama sesudah naik singgasana, pendiri Dinasti Song itu segera bertanya kepada Zhao Pu (922–992), perdana menteri pertamanya, "Kenapa Dinasti Tang runtuh?" Zhao menjawab: dominasi para panglima militer yang bertindak sewenang-wenang dan terlalu banyak mencampuri urusan pemerintahan.
Kaisar Zhao Kuangyin kemudian perlahan mengurangi peran tentara di pemerintahnya dan berhasil mengakhiri lebih dari dua abad perpecahan wilayah oleh para panglima perang yang telah berlangsung sejak pertengahan Dinasti Tang.
BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan CEO of Household Sri Fitz: Fu Zai Zhi Zu
BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Pelatih Bintang Timur Futsal Club Surabaya Reka Cahya Punthoadi: Xin Cheng Ze Ling
Yang paling monumental tentu adalah dialog antara Kaisar Taizong dari Dinasti Tang dengan Wei Zheng (580–643), perdana menteri sekaligus penasihatnya, yang tersaripatikan dalam preambule kitab Zhenguan Zhengyao mahakarya sejarawan Wu Jing (640–749).
Wei mengatakan begini, kala ditanya Taizong mengenai musabab keruntuhan sebuah pemerintahan, "Rakyat menginginkan ketenangan, tapi kerja paksa dan pungutan-pungutan liar tidak pernah berhenti. Rakyat semakin menderita dan melemah, tapi penguasa terus-menerus melakukan penghamburan-hamburan. Kemunduran dan kehancuran suatu negara sering kali berawal dari keadaan seperti ini" (百姓欲静而徭役不休,百姓凋残而侈务不息,国之衰弊,恒由此起). (*)