DI depan sekitar 2.600 akademisi, Presiden Prabowo Subianto membuka sambutan dengan tiga istilah yang tidak ringan: statecraft, deep state, dan state capture. Istilah itu adalah common knowledge. Tiga istilah tersebut terdengar seperti bahan kuliah ilmu politik.
Namun, sesungguhnya sangat dekat dengan nasib rakyat. Ia menyangkut isi perut negara: bagaimana negara dibangun, dijalankan, dan dijaga agar tidak dibajak.
Yang pertama: statecraft. Secara sederhana, statecraft adalah seni mengurus negara. Bukan sekadar seni berpidato. Bukan pula hanya seni menang pemilu, menyusun koalisi, atau membagi kursi. Statecraft adalah kemampuan membaca zaman, menentukan arah, memilih prioritas, membangun kekuatan, dan mengeksekusi keputusan secara konsisten.
Konsep itu tua. Machiavelli menulis The Prince. Sun Tzu menulis The Art of War. Kautilya menulis Arthashastra. Di era modern, Henry Kissinger, David A. Baldwin, dan Hal Brands juga banyak dirujuk. Intinya sama: negara tidak boleh berjalan seperti orang tersesat.
BACA JUGA:Catatan dari Saresehan Kebangsaan KSTI 2026 (2): Negara Memberi Lahan, Pengusaha Menyimpan Dolar
Negara yang punya statecraft tahu hendak pergi ke mana. Ia tahu kekuatan apa yang harus dibangun. Ia tahu kelemahan apa yang harus diperbaiki. Ia tahu kapan pasar diberi ruang, kapan negara harus hadir, dan kapan kepentingan nasional wajib dilindungi.
Di titik itulah pertanyaan Presiden Prabowo kepada para akademisi menjadi relevan. Mengapa Indonesia yang kaya sumber daya alam belum sepenuhnya mandiri dalam industri strategis? Mengapa kampus, riset, industri, dan kebijakan negara belum berjalan dalam satu tarikan napas?
Kemandirian ekonomi tidak lahir otomatis dari kekayaan alam. Banyak negara yang kaya sumber daya, tetapi tetap miskin. Sebaliknya, ada negara yang miskin sumber daya, tetapi menjadi raksasa industri. Bedanya terletak pada tata kelola: kemampuan mengubah potensi menjadi produktivitas, pengetahuan menjadi industri, dan APBN menjadi kesejahteraan.
Di sinilah kampus penting. Kampus tidak boleh hanya menjadi penonton pembangunan. Kampus harus menjadi dapur gagasan negara. Kampus harus membantu menentukan industri prioritas, teknologi kunci, rantai pasok strategis, komoditas yang harus naik kelas, dan riset yang harus dibiayai serius.
BACA JUGA:Catatan dari Saresehan Kebangsaan KSTI 2026 (4): Menakar Peta Jalan dan Agenda Riset 2026
Deep State
Namun, statecraft punya lawan yang pertama, yaitu deep state. Istilah itu sering dipakai dalam perdebatan politik. Kadang tepat. Kadang berlebihan. Sebagai konsep, deep state dapat dipahami sebagai kekuatan tersembunyi di dalam negara yang bekerja di luar kendali politik yang sah.
Deep state bukan sekadar birokrasi kuat. Negara modern justru membutuhkan birokrasi kuat: profesional, berpengalaman, dan mampu menjaga kesinambungan kebijakan. Yang berbahaya adalah birokrasi yang tidak akuntabel. Birokrasi yang punya agenda sendiri. Birokrasi yang lebih setia kepada jaringan daripada kepada konstitusi.