Terkadang ia lahir dari sesuatu yang tampak sederhana: sebuah bola, stadion penuh penonton, dan jutaan emosi manusia yang bergerak bersamaan.
Karena itu, dalam sepak bola modern, seorang pemain bisa diperlakukan layaknya aset finansial. Nilai seorang striker elite tidak lagi hanya diukur dari jumlah gol, tetapi juga dari nilai komersialnya: berapa banyak jersey terjual, berapa sponsor yang masuk, seberapa besar peningkatan jumlah follower media sosial klub, hingga seberapa kuat daya tarik pasar Asia atau Timur Tengah terhadap klub tersebut.
Karena itulah, transfer pemain dunia kini menembus ratusan juta euro. Dalam logika kapitalisme olahraga, pemain adalah ”human capital” yang diperdagangkan dalam pasar global. Fenomena itu menunjukkan bahwa sepak bola modern telah bergerak jauh melampaui semangat olahraga dalam paradigma konvensional.
Tantangan terbesar negara-negara yang ingin membangun industri sepak bola tidak sekadar menciptakan liga profesional, tetapi menjaga keseimbangan antara nilai olahraga dan logika pasar.
Jika terlalu dikuasai kapitalisme, sepak bola berisiko kehilangan akar sosialnya dan berubah menjadi sekadar mesin bisnis hiburan. Tetapi, jika hanya dipandang sebagai olahraga romantis tanpa tata kelola industri modern, sepak bola juga sulit berkembang menjadi kekuatan ekonomi nasional.
Negara-negara maju berhasil karena mampu memadukan keduanya: menjaga gairah olahraga rakyat, sekaligus membangun ekosistem bisnis yang profesional, transparan, dan produktif secara ekonomi.
Dalam ekonomi abad ke-21, yang paling mahal bukan lagi sekadar sumber daya alam, melainkan perhatian publik, loyalitas massa, dan kemampuan menciptakan pengalaman kolektif. Dan, sepak bola, sejauh ini, adalah salah satu mesin paling efektif untuk menghasilkan semuanya.
Nah, bagaimana dengan Indonesia? (*)
*) Sukarijanto, pemerhati kebijakan publik dan analis di Lembaga Kajian Economics, Enterpreneurship, & Leadership