SIDOARJO, HARIAN DISWAY - Rembesan lumpur di titik P10D, di kawasan Lumpur Lapindo, Sidoarjo cukup menghawatirkan.
Ya, memprihatinkan mengenai kondisi geologis kawasan tanggul Lapindo. Ketua Tim Perencanaan Teknis Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) Arif Firmanto, mengungkapkan bahwa kawasan tanggul mengalami penurunan muka tanah rata-rata 0,5 meter setiap tahunnya.
Kondisi itu menjadi tantangan utama dalam upaya mitigasi bencana.
Menurutnya, penurunan tanah yang drastis itu dipengaruhi karakter geologi Sidoarjo yang didominasi endapan sedimen dengan daya dukung rendah.
BACA JUGA:APBD Jatim 2025 Dapat Opini WTP, Banggar DPRD Minta Pemprov Optimalkan Basis PAD
Faktor itu diperparah aktivitas tektonik dari dua sesar aktif, yakni Sesar Siring dan Sesar Watukosek.
"Beban timbunan tanggul baru yang kita tempatkan di atasnya memengaruhi stabilitas tanah. Kami harus menghitung kembali struktur elevasi ideal sebelum menerapkan peninggian permanen," terangnya.
Kondisi tanah yang terus ambles memperumit pekerjaan peninggian tanggul di titik P10D. Di mana, PPLS saat ini tengah melakukan penanganan darurat dengan mengerahkan alat berat untuk meninggikan tanggul bocor setinggi satu meter.
Namun mereka menyadari bahwa setiap rencana konstruksi harus melalui kajian cermat agar tak memicu ketidakstabilan baru.
Meski pun volume semburan utama telah menyusut signifikan dari 120.000 meter kubik per detik pada awal bencana menjadi kisaran 27.000-32.000 meter kubik per detik.
BACA JUGA:Jatim Puncaki Transaksi KDKMP Nasional, Emil Dardak Fokus pada Dampak Ekonomi Desa
BACA JUGA:Kapolri dan Jaksa Agung Tegaskan Sinergi Tetap Kuat, Bantah Ada Masalah Antarinstitusi
Hingga, pihaknya memastikan pemantauan intensif terus dilakukan di sepanjang 11 kilometer area tanggul. Meskipun, jika sisi selatan relatif lebih stabil, sisi barat termasuk area P10D memerlukan perhatian ekstra.
Pemerintah dan tim teknis kini tengah menyusun strategi mitigasi tak hanya mengandalkan peninggian fisik, tapi juga penguatan fondasi tanggul agar mampu beradaptasi dengan laju penurunan tanah yang terjadi setiap tahunnya. (*)