Enggan Jadi 'The Next Marc Marquez' Instan, Maximo Quiles Tolak Godaan MotoGP

Minggu 19-07-2026,11:20 WIB
Reporter : Bagus Aji
Editor : Salman Muhiddin

HARIAN DISWAY - Di tengah keriuhan jagat MotoGP yang terobsesi menemukan 'The Next Marc Marquez' lewat jalur instan, Maximo Quiles justru menghentak dunia dengan keputusan anomali. Sang dominator Moto3 berusia 18 tahun ini resmi menolak godaan untuk langsung melompat ke para raja MotoGP demi mematangkan mental dan teknik di Moto2 pada 2027.

Di era hasil serbainstan, Quiles memilih bermain jangka panjang, sebuah pertaruhan elegan CFMoto Aspar Team untuk mencetak legenda yang utuh, bukan sekadar sensasi sesaat.

Selama bertahun-tahun, MotoGP selalu memicu fantasi tentang lahirnya pembalap muda berbakat yang mampu melompati kategori balap. Semakin cepat seorang pembalap menembus kelas utama, semakin luar biasa bakatnya dipandang.

​Sejarah mencatat Jack Miller yang melakukan lompatan ekstrem "langsung" dari Moto3 ke MotoGP. Sementara itu, nama-nama seperti Pedro Acosta, Fabio Quartararo, dan Fermín Aldeguer sukses bergabung dengan jajaran elite kelas premier saat baru menginjak usia 19 tahun.

​Máximo Quiles mungkin sempat tergoda untuk menempuh jalur kilat yang sama. Namun, pembalap muda Spanyol ini memilih jalan yang lebih rasional.

​Pada usia 18 tahun, Quiles mendominasi musim Moto3 dengan dominasi yang terbilang langka: mengemas enam kemenangan dalam sebelas balapan, hanya sekali finis di luar podium, dan unggul lebih dari seratus poin sebelum jeda musim panas. Lewat performa impresif ini, Quiles dipastikan akan tetap bersama CFMoto Aspar Team pada tahun 2027, namun dengan status naik kelas ke Moto2.

BACA JUGA:Guenther Steiner Tebar Ancaman: Tech3 Amankan Motor Pabrikan KTM, Siap Rusak Dominasi Ducati!

BACA JUGA:MotoGP 2027: Thailand Jadi Pembuka Lagi Akibat Konflik Timur Tengah?

Bos tim CFMoto-Aspar, Jorge Martinez tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya atas komitmen jangka panjang ini.

​"Kami sangat senang menyambut Máximo Quiles ke tim Moto2 kami. Tahun ini, dia adalah pembalap yang harus dikalahkan di Moto3. Kami akan terus bekerja keras dalam beberapa bulan mendatang untuk mengamankan gelar juara dunia sebelum naik ke kelas menengah," ujar Jorge Martinez.

​Pesan yang disampaikan sang bos sangat jelas: sebelum muluk-muluk memikirkan MotoGP, Quiles harus menyelesaikan tugasnya di Moto3. Martinez juga menekankan keberlanjutan dari model pembinaan timnya yang sudah terbukti.


Maximo Quiles (28) saat beraksi di GP Belanda 2026--Twitter LATO BOX @LatoBox

​"Dengan kedatangan Maximo di Moto2, seperti yang sebelumnya kami lakukan untuk Albert Arenas, Izan Guevara, dan David Alonso, kami terus memperkuat model pengembangan pembalap dari kategori junior hingga ke Kejuaraan Dunia," tegas Jorge Martinez. 

Bagi Quiles, keputusan tim untuk menaikkan levelnya tahun depan disambut dengan antusiasme tinggi. Ia sekaligus menepis anggapan bahwa Moto2 hanyalah sekadar formalitas atau batu loncatan tanpa makna.

​"Saya sudah tidak sabar untuk mengendarai motor Moto2. Saya pikir karakteristik motornya akan sangat cocok dengan gaya balap saya, dan saya akan sangat menikmatinya," ungkap Quiles.

​Pembalap kelahiran 2008 ini memandang langkah ini sebagai fase krusial untuk menguasai berbagai keterampilan penting sebelum promosi ke MotoGP. Mulai dari manajemen ban, adaptasi dengan bobot motor yang lebih berat, teknik pengereman, ritme balapan, hingga kolaborasi teknis dengan para insinyur tim.

BACA JUGA:Peta Kekuatan Konsesi MotoGP Resmi Berubah: Ducati Turun Kelas, Honda Kembali ke Rank D!

BACA JUGA:Minta Gaji Selangit, Transfer Jack Miller ke Yamaha WSBK Terancam Batal!

Strategi Cerdas di Tengah Regulasi Baru 2027

​Sebenarnya, MotoGP bisa saja menunggu Máximo Quiles. Hasil dominan yang diraihnya di Moto3 musim ini sangat masuk akal untuk membenarkan kepindahannya langsung ke kelas utama. Terlebih, regulasi baru MotoGP 2027 akan memperkenalkan mesin 850cc dan ban Pirelli, sebuah perubahan masif yang secara teoritis bisa memangkas jarak keuntungan pengalaman yang dimiliki para pembalap senior.

​Di luar lintasan, Quiles juga mendapat dukungan dari jaringan Vertical Management yang dihuni oleh sosok-sosok berpengaruh seperti Marc Marquez, Alex Marquez, dan Jaime Martinez.

​Namun, usianya yang masih sangat muda membuat keputusan yang tergesa-gesa menjadi tidak perlu. Lompatan langsung ke kelas premier di usia 18 tahun memang akan mencatatkan namanya sebagai salah satu pembalap termuda dalam sejarah.

Sayangnya, risiko yang dipertaruhkan terlalu besar. Ia harus mempelajari motor kelas utama yang brutal di saat yang sama ketika para pabrikan sedang mengembangkan motor yang benar-benar baru dari nol.

Kedewasaan Quiles juga tecermin dari pendekatannya menghadapi paruh kedua musim Moto3 tahun ini.

​"Paruh pertama musim ini berjalan sangat bagus, dan tujuan kami jelas untuk tetap berada di puncak. Untuk paruh kedua, saya akan terus bekerja dengan cara yang sama. Saya tidak akan mengubah pendekatan apa pun karena metode ini terbukti berhasil. Saya harus tetap fokus karena masih banyak balapan yang harus dihadapi," pungkasnya.

​Sebuah pernyataan sederhana, namun menunjukkan mentalitas pembalap yang tidak ingin terburu-buru membakar kariernya sendiri.

​Secara kalkulasi taktis, melewati jalur Moto2 adalah pilihan strategis yang brilian. Mayoritas pembalap MotoGP diperkirakan akan menandatangani kontrak berdurasi dua tahun untuk siklus 2027-2028. Artinya, kursi di tim-tim top kemungkinan besar baru akan terbuka lebar pada musim 2029.

Dengan berkompetisi di Moto2 selama satu atau dua musim, Quiles dapat memasuki bursa transfer kelas utama pada momentum yang ideal: datang dengan kematangan penuh tanpa harus melewatkan fase penting dalam perkembangannya.

​Di era modern yang sering kali terobsesi dengan hasil instan, keputusan Máximo Quiles untuk bermain dalam jangka panjang bisa menjadi langkah besar yang menentukan peta kekuatan generasinya di masa depan.(*) 

Kategori :