Meski berhasil menyita perhatian jutaan penonton di seluruh dunia, halftime show final Piala Dunia 2026 memunculkan beragam reaksi. Banyak pihak memuji kualitas produksi yang dinilai setara dengan Super Bowl.
Tata panggung, koreografi, tata cahaya, hingga transisi antarpenampil mendapat apresiasi karena berlangsung mulus tanpa mengganggu jalannya pertandingan.
Sejumlah media internasional menyebut FIFA berhasil menciptakan tontonan yang mampu menarik penonton di luar penggemar sepak bola. Kehadiran musisi lintas genre juga dianggap memperluas jangkauan audiens Piala Dunia kepada generasi muda.
Namun, tidak sedikit pula kritik yang bermunculan. Sebagian penggemar menilai konsep tersebut terlalu mengadopsi budaya olahraga Amerika Serikat. Sehingga mengurangi identitas tradisional sepak bola internasional.
BACA JUGA:Hydration Break Piala Dunia 2026 Tuai Kritik, Infantino Buka Suara
BACA JUGA:Kenapa Jude Bellingham Lolos Kartu Merah? Ini Penjelasan FIFA Soal Aturan Tutup Mulut
Diproduksi Global Citizen dan Chris Martin, jeda final Spanyol vs Argentina disulap jadi panggung hiburan spektakuler berskala global.--Reuters
Kekhawatiran lain muncul terkait durasi jeda yang lebih panjang. Hal itu dinilai dapat memengaruhi kondisi fisik pemain, ritme pertandingan, hingga strategi pelatih di ruang ganti.
Meski demikian, FIFA tampaknya melihat halftime show sebagai bagian dari evolusi penyelenggaraan Piala Dunia. Jika respons komersial dan jumlah penonton menunjukkan hasil positif, bukan tidak mungkin konsep serupa akan kembali diterapkan.
Hal itu sekaligus menandai perubahan besar. Bahwa final Piala Dunia kini tak hanya menjadi panggung perebutan trofi. Tapi juga pertunjukan hiburan global yang menyatukan olahraga, musik, dan pesan kemanusiaan dalam satu acara. (*)