Lorong Yatra Ari Dwipayana

Selasa 21-07-2026,15:00 WIB
Reporter : Arif Afandi
Editor : Yusuf Ridho

Yang menarik, ia menemukan serpihan peradaban itu dari pemimpin muda Mas Dhito. Yang mengarahkan Bli Ari menggelar Sastra Saraswati Seswana Yatra 2026 di Candi Tegowangi. Bukan di gedung pertunjukan. Candi yang ternyata melengkapi puzzle peradaban Nusantara yang sedang dirajut Bli Ari.

Saya tiba-tiba menyadari bahwa Nusantara memang sejak awal dibangun oleh perjalanan. Pedagang, ulama, pendeta, seniman, pelaut, pujangga, dan para pengembara. Mereka telah saling bertukar gagasan jauh sebelum Indonesia lahir sebagai negara. Yatra menghidupkan kembali tradisi perjalanan itu. 

Dalam ilmu politik, kita mengenal konsep nation building atau pembangunan bangsa. Selama ini pembangunan bangsa sering dipahami melalui pembangunan institusi, hukum, birokrasi, dan ekonomi. Semua itu benar. Namun, bangsa tidak hanya dibangun oleh institusi.

Bangsa juga dibangun oleh memori. Tanpa memori bersama, negara hanya menjadi organisasi administratif. Yang membuat jutaan orang dari Sabang sampai Merauke merasa sebagai satu bangsa bukan semata-mata karena memiliki paspor yang sama. Tapi, karena mereka merasa berbagi cerita yang sama.

Di sinilah saya melihat Yatra sedang mengerjakan sesuatu yang sangat mendasar. Ia sedang merawat memori kolektif bangsa. Mengajak masyarakat membaca kembali sumber-sumber kebudayaan Nusantara. Bukan untuk memuliakan masa lalu. Tapi, menemukan nilai-nilai yang masih relevan bagi masa depan.

Dalam setiap relief, setiap lontar, dan setiap pertunjukan seni, selalu ada pesan tentang kepemimpinan. Juga, tentang keadilan, harmoni, keberanian, dan penghormatan terhadap alam. Nilai-nilai itu sesungguhnya tidak pernah usang. Hanya cara kita membacanya yang perlu diperbarui.

Di Tegowangi, saya juga melihat transformasi pribadi Bli Ari sebagai sesuatu yang menarik. Dari yang dahulu banyak berbicara mengenai negara, kini lebih banyak berbicara mengenai peradaban. Mengenai nilai-nilai yang berkembang di bumi Nusantara.

Jelas itu perbedaan yang sangat mendasar. Negara adalah konstruksi politik. Peradaban adalah perjalanan kebudayaan yang melampaui zaman. Negara bisa berganti pemerintahan. Peradaban tetap hidup selama nilai-nilainya diwariskan.

Ia seperti sedang mengingatkan bahwa Indonesia tidak lahir pada 17 Agustus 1945. Indonesia modern memang diproklamasikan pada tanggal itu. Tapi, akar kebangsaannya tumbuh jauh sebelumnya. Lewat ribuan tahun perjalanan berbagai peradaban yang saling bertemu. Yang membentuk apa yang hari ini kita sebut Indonesia.

Jelang tengah malam, ketika pertunjukan wayang wong usai, saya pulang membawa kesan yang berbeda. Saya datang untuk menyaksikan sebuah pertunjukan budaya. Saya pulang setelah menyaksikan perjalanan hidup seorang sahabat.

Perjalanan seorang ilmuwan politik yang memilih menjadi pejalan kebudayaan. Perjalanan seorang mantan penghuni istana yang kembali ke akar peradaban. Perjalan menuju bentuk pengabdian yang paling sunyi. Merawat percakapan panjang antar peradaban yang akan terus hidup lintas generasi.

Tidak semua orang yang pernah mencapai puncak harus terus tinggal di puncak. Tidak semua yang pernah berada di lingkar kekuasaan harus terus mengejar sorot lampu, jabatan, harta, atau pengaruh. Ada saatnya seseorang justru menemukan makna pengabdiannya ketika berani meninggalkan keramaian dan memilih jalan sunyi.

Jalan sunyi tidak berarti menjauh dari negeri ini. Justru sebaliknya. Ia memilih bekerja pada sesuatu yang hasilnya mungkin tidak segera terlihat. Tetapi, menentukan umur sebuah bangsa: merawat ingatan, menjaga akar peradaban, dan menanam nilai bagi generasi yang belum lahir. 

Saya melihat Bli Ari sedang menapaki jalan itu. Sebuah jalan yang mungkin tidak seramai koridor Istana Negara. Pada akhirnya, yang paling dikenang bukan selalu mereka yang paling lama memegang kuasa, melainkan mereka yang meninggalkan makna. 

Barangkali di situlah pengabdian menemukan bentuknya yang paling luhur. Ia memilih yatra atau jalan berupa lorong sejarah untuk merajut kembali kepingan-kepingan jejak peradaban Nusantara. (*)

 

Kategori :