Gelombang protes mahasiswa kembali mengguncang India. Kali ini bukan semata soal ujian yang bocor. Bukan pula hanya tentang sistem pendidikan yang dipersoalkan. Aksi itu berubah menjadi ujian politik bagi pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi.
SELASA, 21 Juli 2026, pemimpin oposisi utama India, Rahul Gandhi, melontarkan tuntutan sangat keras. Ia meminta Modi mengundurkan diri. Alasannya jelas. Pemerintah dinilai gagal melindungi masa depan generasi muda India.
"Modi harus mundur karena telah menghancurkan masa depan anak muda India," tulis Gandhi di media sosial. Ia menyampaikan pernyataan itu ketika memimpin pawai bersama anggota parlemen dari Partai Kongres menuju kediaman perdana menteri di New Delhi.
Gandhi juga menuduh pemerintah menghindari tanggung jawab. Menurutnya, pemerintah bahkan tidak bersedia membuka perdebatan mengenai persoalan tersebut di parlemen.
BACA JUGA:Kerja Sama Indonesia dan India: Restorasi Candi Prambanan Ditargetkan Rampung Sebelum 2029
Pernyataan Gandhi muncul sehari setelah bentrokan besar terjadi di pusat kota New Delhi. Polisi menyebut sekitar 60 demonstran terluka. Di sisi lain, Delhi Police mengatakan sedikitnya 118 personel kepolisian juga mengalami cedera.
Bentrokan itu adalah salah satu demonstrasi jalanan terbesar di ibu kota India dalam sekitar lima tahun terakhir.
Ribuan orang berkumpul di kawasan Jantar Mantar. Mayoritas merupakan mahasiswa dan anak muda. Mereka menuntut Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan mengundurkan diri. Mereka juga meminta reformasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan dan sistem ujian nasional.
Aksi tersebut dimobilisasi oleh Cockroach Janta Party (CJP). Partai Kecoak. Gerakan itu lahir di media sosial pada Mei lalu. Dalam waktu singkat, CJP berhasil mengumpulkan jutaan pengikut. Gerakan Partai Kecoak itu kini menjadi salah satu tantangan politik terbesar bagi Modi sejak memenangkan masa jabatan ketiganya pada 2024.
POLISI MENEMBAKKAN gas air mata di New Delhi, 20 Juli 2026.-SAJJAD HUSSAIN-AFP-
Polisi berusaha menghentikan massa ketika mereka bergerak menuju gedung parlemen. Gas air mata ditembakkan. Aparat juga melakukan pembubaran dengan tongkat. Massa membalas dengan melempari batu.
Suasana yang semula dipenuhi slogan berubah menjadi bentrokan terbuka.
Delhi Police menilai massa bertindak agresif dan melakukan kekerasan. Sebaliknya, penyelenggara aksi mengecam tindakan aparat. Mereka menyebut polisi bertindak berlebihan terhadap mahasiswa yang datang membawa tuntutan yang sah.
"Ini adalah hari yang memalukan dalam sejarah demokrasi India. Mahasiswa yang datang memperjuangkan persoalan nyata dipukuli secara brutal oleh polisi Delhi," kata juru bicara CJP, Ashutosh Ranka.