HARIAN DISWAY - Xavi Simons akhirnya mengungkap alasan di balik keputusannya meninggalkan akademi Barcelona dan bergabung dengan Paris Saint-Germain pada 2019.
Gelandang Timnas Belanda itu mengaku tidak membutuhkan waktu lama untuk menentukan pilihan. Ia merasa klub yang telah membesarkan namanya itu sudah tidak lagi melihatnya sebagai bagian dari proyek masa depan.
Simons merupakan salah satu talenta terbaik La Masia sebelum hijrah ke PSG pada usia 16 tahun. Dalam wawancara bersama The Sports Agents, pemain yang kini berusia 23 tahun tersebut mengatakan bahwa pesan yang ia terima dari Barcelona sangat jelas.
Menurutnya, pihak klub secara terbuka menyampaikan bahwa mereka memiliki pemain lain yang lebih diyakini mampu menjadi bagian dari rencana jangka panjang.
BACA JUGA:Xavi Simons Cedera ACL, Tottenham Makin Tertekan di Zona Degradasi
BACA JUGA:Rating Pemain Tottenham yang Menahan Imbang Man City 2-2, Solanke-Simons Menyala!
Merasa tak dipercaya dan tersingkir dari proyek Barcelona, Simons pilih hengkang ke PSG pada 2019.--Getty Images
"Dari pihak mereka sudah sangat jelas bahwa mereka tidak percaya kepada saya," kata Simons, yang kini membela Tottenham Hotspur itu.
Ia menjelaskan bahwa saat itu dirinya memilih tetap diam dan tidak memberikan tanggapan kepada publik. Fokus utamanya hanyalah bermain sepak bola, meski pembicaraan dengan klub meninggalkan luka yang cukup dalam.
"Mereka mengatakan masih ingin memberi saya kontrak. Tapi saya bukan salah satu pemain yang benar-benar masuk ke dalam proyek mereka," ungkap Simons. "Mereka punya pemain lain yang lebih mereka yakini," ujarnya.
Simons mengakui keputusan tersebut tidak mudah diterima secara emosional. Ia menghabiskan hampir seluruh masa kecilnya di Barcelona. Sehingga kabar itu juga berdampak pada keluarganya.
BACA JUGA:Legenda Inggris Angkat Bicara Soal Gol Xavi Simons yang Dianulir: Prancis Beruntung!
BACA JUGA:Tinggalkan RB Leipzig, Xavi Simons Jadi Rebutan MU, Liverpool dan Bayern Munich
"Saya tumbuh di sana, mengalami semuanya di klub itu sejak kecil. Saya mencintai Barcelona," ungkap pemain kelahiran Amsterdam, 21 April 2003 tersebut.
"Karena itu, apa yang terjadi saat itu sangat menyakitkan, bukan hanya bagi saya tetapi juga keluarga saya. Namun, mereka memilih pemain lain dan saya harus menerimanya," tutur Simons.