HARIAN DISWAY - Banyak ibu yang menjalani peran ganda. Sebagai karyawan kantoran sekaligus pengasuh utama di rumah. Working mom.
Mereka sering merasa waktu 24 jam tidak pernah cukup. Fenomena itu ramai dibicarakan di berbagai forum parenting.
Apalagi kini makin banyak perempuan yang tetap memilih berkarier setelah menjadi ibu. Kondisi itu membuat banyak working mom bergulat dengan rasa lelah fisik.
Sekaligus mom guilt setiap hari. Baik saat berada di kantor maupun di rumah. Tetapi terdapat beberapa strategi praktis. Sehingga peran ganda itu tidak menguras energi secara berlebihan.
BACA JUGA:8 Cara Work Life Balance di Era Hybrid, Tetap Produktif Tanpa Burnout
BACA JUGA:Lowongan Admin AI Freelance Makin Dicari, Bekerja dari Rumah Bisa Dapat Penghasilan
Salah satunya adalah cara menata prioritas. Mana yang harus didahulukan. Tanpa mengorbankan salah satu peran.
Working Mom yang Bekerja Sambil Mengasuh Anaknya Dari Rumah-William Fortunato-Pexels
Berikut 5 tips work-life balance yang bisa langsung dipraktikkan working mom.
1. Kenali fase kehidupan yang sedang dijalani
Setiap ibu melewati fase yang berbeda-beda. Ada yang baru kembali bekerja usai cuti melahirkan.
Kemudian mengurus anak yang baru masuk sekolah. Hingga mendampingi anak remaja yang mulai punya jadwal sendiri.
BACA JUGA:Toxic Productivity, Ketika Obsesi Menjadi Produktif Berujung Burnout
BACA JUGA:Kenali Perbedaan Burnout dan Boreout Agar Kualitas Kerja Tetap Optimal
Fase itu menentukan prioritas apa yang paling penting untuk difokuskan saat itu. Dan prioritas tersebut bisa terus berubah seiring waktu.
Working mom perlu jujur pada diri sendiri soal fase yang sedang dijalani. Sehingga tidak memaksakan diri mengejar standar yang sebenarnya tidak relevan dengan kondisi saat ini.
Ingat juga bahwa fase yang terasa berat pun sebenarnya bersifat sementara. Sehingga tidak perlu terburu-buru menuntaskan semuanya dalam waktu singkat.
2. Beri diri sendiri ruang untuk tidak sempurna
Banyak ibu bekerja terlalu keras. Lalu mengkritik diri sendiri saat merasa gagal menyeimbangkan semua hal.
BACA JUGA: WFO, WFH, atau WFA: Mana yang lebih Baik?
BACA JUGA:5 Teknik Meditasi untuk Redakan Cemas dan Burnout, Tidak Harus Duduk Diam Berjam-jam
Bahkan sampai menganggap diri sendiri sebagai ibu yang kurang baik. Misalnya, telat membalas pesan grup orang tua. Atau minta bantuan tetangga menjemput anak. Itu bukan tanda kegagalan sebagai ibu.
Cobalah bertanya pada diri sendiri. Apakah kalimat yang dipakai untuk menghakimi diri akan diucapkan pada seorang sahabat yang mengalami situasi serupa.
Jika jawabannya tidak, itu pertanda working mom perlu berhenti terlalu keras pada diri sendiri.
Lebih baik mulai membiasakan diri memberi apresiasi atas usaha yang sudah dilakukan setiap hari.
BACA JUGA:Working Poor: Bekerja, tapi Tak Menjamin Kesejahteraan
BACA JUGA:Tantangan Hybrid Working, Antara Kerja dan Kehidupan Pribadi
3. Jangan coba lakukan semuanya sendirian
Waktu, tenaga, dan energi working mom jumlahnya terbatas. Sehingga mustahil mengerjakan semua hal sekaligus dengan sempurna.
Sering kali hal itu dilakukan para working mom dengan mengorbankan kesehatan atau kewarasan diri sendiri.
Belajar menolak sejumlah komitmen yang tidak esensial. Seperti mengiyakan setiap undangan arisan atau proyek tambahan di kantor.
Hal itu akan membantu working mom lebih fokus pada dua hal utama. Yaitu dengan keluarga dan pekerjaan.
BACA JUGA:Cara Mencegah Mata Minus dan Lelah pada Pekerja Digital Media
BACA JUGA:5 Skill Manusia yang Tak Dapat Digantikan AI di Dunia Kerja 2026
Tidak perlu hadir di setiap acara kantor maupun setiap kegiatan sekolah anak. Karena working mom tetap bisa jadi sosok yang hadir secara berkualitas. Tanpa harus ada di semua tempat.
Menentukan batasan yang jelas soal apa yang bisa dan tidak bisa dikerjakan. Cara tersebut justru akan membuat energi yang tersisa lebih maksimal. Dapat digunakan untuk berbagai hal yang benar-benar penting.
4. Luangkan waktu istirahat yang cukup
Working Mom Hindari Kelelahan yang Berat, Prioritaskan Tidur yang Cukup -kaboompics-Pexels
Tidur cukup jadi salah satu kunci utama menjaga stamina fisik dan mental working mom. Terlebih yang menjalani rutinitas padat setiap hari.
Mulai dari bangun pagi menyiapkan anak sekolah hingga lembur menyelesaikan pekerjaan kantor.
BACA JUGA:Berangkat Kerja Lebih Tenang! Ini Cara 'Mindful Dhikr' Sambil Jalan Kaki di Pagi Hari
BACA JUGA:Kombinasi Buah dan Air Kelapa, Hidrasi Instan saat Buka Puasa Bagi Pekerja Lapangan
Kurang tidur dalam jangka panjang berisiko memicu berbagai masalah kesehatan. Baik fisik maupun psikis. Mulai dari mudah sakit, sulit fokus, sampai emosi yang lebih gampang tersulut.
Menjadikan waktu tidur sebagai prioritas, baik untuk diri sendiri maupun anak, akan membuat rutinitas harian terasa jauh lebih ringan dijalani.
Sesekali, working mom juga perlu mengizinkan diri sendiri untuk sekadar rebahan. Tanpa merasa bersalah. Karena istirahat bukan kemewahan. Melainkan kebutuhan.
5. Jangan ragu meminta bantuan
Tidak ada satu orang pun yang bisa menjalankan semuanya sendirian. Termasuk working mom sekalipun.
BACA JUGA:Dampak Ledakan Teknologi Agentic AI, 5 Pekerjaan ini Paling Dicari di 2026
BACA JUGA:9 Pekerjaan Penuh Tekanan pada 2026 Berdasarkan Studi Terbaru
Tuntutan di sekitar memang sering membuat working mom merasa harus serba bisa. Tak ada salahnya meminta bantuan anggota keluarga.
Misalnya untuk ikut momong anak. Kemudian minta bantuan rekan kerja untuk saling berbagi tugas proyek.
Atau layanan konseling saat beban terasa terlalu berat. Hal itu bukan tanda lemah. Melainkan langkah realistis dan bijak.
Working mom juga dapat memanfaatkan layanan belanja online, jasa antar makanan, meal prep di malam hari, hingga jasa titip jemput anak sekolah.
BACA JUGA:5 Rekomendasi Pekerjaan Freelance yang Cocok untuk Ibu Rumah Tangga
BACA JUGA:Ingin Bekerja dari Rumah? Ini 6 Pekerjaan Freelance yang Bisa Dicoba
Cara tersebut dapat memangkas beban pekerjaan rumah tangga. Dengan berbagi peran, working mom mempunyai lebih banyak ruang. Mereka bisa lebih fokus pada hal-hal yang memang hanya bisa dilakukan olehnya sendiri.
Kelima tips di atas menunjukkan bahwa work-life balance bukan soal membagi waktu secara merata untuk semua hal.
Melainkan soal memilih fokus yang tepat di setiap momen. Jika kelima langkah itu diterapkan, working mom biasanya merasa jauh lebih ringan menjalani rutinitas harian. Tanpa harus mengorbankan diri sendiri. (*)
*) Mahasiswa magang dari Prodi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya.