Paradigma Baru Transmigrasi: Bukan Sekadar Memindahkan Orang

Sabtu 01-08-2026,20:46 WIB
Oleh: Hery Purnobasuki*

Sebagus apa pun desain kawasan, semua akan sia-sia kalau sumber daya manusianya tidak siap. Maka, transmigrasi modern harus memberikan perhatian serius kepada pendidikan, pelatihan, kewirausahaan, dan pendampingan. 

Program seperti Transmigrasi Patriot dan Ekspedisi Patriot menunjukkan bahwa pemerintah mulai melihat SDM sebagai motor utama pembangunan kawasan. 

Itu sangat penting. Transmigran masa kini tidak cukup hanya dibekali rumah dan lahan. Mereka perlu dibekali kemampuan membaca peluang, mengelola produksi, memanfaatkan teknologi, dan memahami pasar. 

Dengan begitu, mereka tidak hanya menjadi penghuni kawasan, tetapi juga pelaku utama ekonomi kawasan itu sendiri.

Dalam konteks ini, kerja sama dengan kampus juga sangat strategis. Perguruan tinggi bisa membantu riset potensi wilayah, desain komoditas unggulan, pendampingan masyarakat, hingga evaluasi kebijakan. Dengan kata lain, transmigrasi bisa menjadi laboratorium pembangunan yang nyata.

Jangan Lupa Lingkungan

Paradigma baru transmigrasi juga harus tunduk pada prinsip keberlanjutan. Pembangunan kawasan tidak boleh mengulang kesalahan lama: membuka lahan tanpa hitung daya dukung, menekan hutan, atau mengeksploitasi sumber daya secara berlebihan. Jika itu terjadi, transmigrasi justru menjadi sumber masalah baru.

Karena itu, pengembangan kawasan harus berbasis data, sains, dan kehati-hatian ekologis. Pemerintah sendiri mulai menekankan bahwa transformasi transmigrasi perlu didukung riset komprehensif, keberlanjutan, dan resiliensi. 

Itu sejalan dengan kebutuhan zaman, ketika pembangunan tidak bisa lagi hanya mengejar output ekonomi jangka pendek. Kita butuh pembangunan yang tahan lama, adaptif, dan ramah lingkungan. 

Wajah Baru Transmigrasi

Pada akhirnya, transmigrasi harus keluar dari citra lama sebagai program pemindahan penduduk. Paradigma baru menuntut kita melihat transmigrasi sebagai proyek besar membangun kawasan hidup yang produktif, adil, dan berkelanjutan. 

Ukurannya bukan lagi berapa banyak orang yang pindah, melainkan apakah kawasan itu mampu tumbuh menjadi pusat ekonomi baru yang memberikan kehidupan lebih baik.

Jika diarahkan dengan serius, transmigrasi bisa menjadi jawaban atas persoalan pemerataan pembangunan, ketimpangan wilayah, dan penciptaan lapangan kerja. Namun, syaratnya jelas: jangan berhenti pada relokasi, harus naik kelas menjadi transformasi. Tidak hanya memindahkan orang, tetapi membangun masa depan. (*)

*) Hery Purnobasuki adalah guru besar FST Universitas Airlangga dan ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan Universitas Airlangga.

Kategori :