SURABAYA, HARIAN DISWAY – Disway Mandarin Debate and Speech Competition kembali digelar. Ajang kompetisi tahun kedua itu digelar di Atrium Pakuwon Mall City 2, Surabaya, pada 5 dan 6 September 2026.
Kompetisi ini mempertemukan peserta dari berbagai kalangan. Untuk kategori pidato atau speech, lomba terbagi menjadi dua kategori, yakni pelajar SMA dan sederajat, serta mahasiswa dan santri.
Lalu, kategori debat atau debate, peserta diutamakan santri yang mengenyam pendidikan di SMA, mahasiswa, dan pesantren.
Ajang tersebut menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengasah kemampuan berbahasa Mandarin. Selain itu, melatih keberanian berbicara, menyampaikan gagasan, dan berargumentasi di hadapan publik.
BACA JUGA:Pemprov Jatim Buka Beasiswa 1.100 Santri 2026, Tambah Kuota STEM dan S2 Al-Azhar Mesir
Santri pesantren Al Majidiyah menjadi juara debat tingkat mahasiswa berfoto bersama Annie Womg, direktur keuangan Harian Disway dan perwakilan Bank Mandiri.-FOTO: MOCH SAHIROL-HARIAN DISWAY-
Direktur Utama Harian Disway Tomy Cahyo Gutomo mengatakan, Disway Mandarin Debate and Speech Competition 2026 merupakan penyelenggaraan tahun kedua. Harian Disway kembali menggandeng Konsulat Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Surabaya, dan PWNU Jawa Timur dalam penyelenggaraan kompetisi tersebut.
“Kompetisi tersebut juga digelar dalam rangka memperingati 76 tahun hubungan persahabatan Indonesia-Tiongkok sekaligus menyambut momentum Hari Santri,” kata Tomy.
Penggunaan bahasa Mandarin dalam kompetisi bukan hanya soal kemampuan berbahasa. Peserta juga ditantang untuk mampu memahami isu, menyusun gagasan, dan menyampaikannya secara argumentatif.
“Tema besar tahun ini adalah Persahabatan Indonesia-Tiongkok dan Perdamaian Dunia,” ucap Tomy.
BACA JUGA:Khofifah dan Konjen Tiongkok Bahas Kerja Sama Industri Perkapalan di Jatim
Khusus kategori debat, peserta akan beradu kemampuan dalam membahas berbagai topik menggunakan bahasa Mandarin. Kompetisi tersebut diharapkan menjadi ruang pertemuan bagi peserta dari latar belakang pendidikan dan komunitas yang berbeda.
Salah satu aspek yang mendapat perhatian adalah santri. Tomy secara khusus mengajak para santri untuk ikut ambil bagian dalam kompetisi tersebut.
“Ini kesempatan untuk menunjukkan bahwa santri juga memiliki kemampuan bahasa asing, termasuk bahasa Mandarin, sekaligus kemampuan berargumentasi,” kata Tomy.