Jika nalar dipangkas habis demi mengejar tepuk tangan dunia maya, yang tertinggal adalah sebuah kondisi dangkal, nirprestasi yang nyata nyaring bersuara di jalanan dan media sosial, tetapi kering dari karya intelektual, inovasi sosial, maupun kontribusi akademik yang solutif.
Realitas Industri Menuju Senja Kala Aktivisme tanpa Kompetensi
Kami –sebagai akademisi yang setiap hari membersamai mahasiswa di ruang-ruang kuliah, sekaligus memiliki pengalaman masa muda pernah menempa diri sebagai aktivis kampus– menyaksikan pergeseran itu menghadirkan sebuah kepedihan tersendiri yang sulit dijelaskan.
BACA JUGA:Menjadikan Kampus Berdampak sebagai Lokomotif Ekonomi
BACA JUGA:Membangun Insan Kampus yang Peka dan Peduli
Ada jurang pemisah yang terlampau dalam antara aktivisme masa lalu dan teater politik kampus hari-hari ini. Lebih memprihatinkan lagi ketika kita melihat realitas di luar kampus, khususnya di dunia industri modern.
Jika dulu stempel pengurus organisasi atau aktivis kampus di dalam curriculum vitae (CV) sudah menjadi karpet merah yang menjamin kemudahan memasuki dunia kerja, data bursa ketenagakerjaan saat ini berbicara jauh berbeda.
Laporan dari berbagai lembaga riset pengembangan sumber daya manusia global, seperti World Economic Forum Future of Jobs, secara konsisten menempatkan kemampuan seperti analytical thinking (pemikiran analitis) dan complex problem-solving sebagai syarat mutlak rekrutmen utama, mencakup lebih dari 70 persen pertimbangan korporasi.
Andai kata seorang aktivis kampus lulus dengan rekam jejak akademik yang kosong, miskin literasi data, dan portofolionya hanya dihiasi rekam jejak ”koar-koar” sensasional di media sosial, jangan heran jika tim human resources (HR) di perusahaan-perusahaan besar langsung mencoretnya dan melihatnya sebagai red flag.
Jika dunia profesional saat ini menuntut eksekusi yang presisi, kedisiplinan intelektual, serta etika kerja kolaboratif yang matang, aktivisme yang kehilangan substansi otomatis kehilangan pula daya tawar ekonominya.
Korporasi tidak sedang mencari orator media sosial yang gemar membuat kehebohan, melainkan pencari solusi andal yang mampu menyelesaikan masalah rumit secara terukur.
Ironi ”Melempari Rumah Sendiri”
Puncak dari pendangkalan pikiran dan kecanduan panggung itu kemudian melahirkan ironi paling menyedihkan dalam sejarah gerakan mahasiswa: kecenderungan sebagian aktivis untuk ”melempari rumahnya sendiri”.
Ketika jalur dialog internal, audiensi yang konstruktif, dan kritik elegan diabaikan begitu saja, yang dipilih justru jalan pintas yang destruktif: memviralkan kekurangan institusi pendidikannya sendiri ke ruang publik digital semata-mata demi mendulang atensi personal.
Jika masalah internal almamater diobral di media sosial tanpa verifikasi yang utuh dan tanpa niat tulus mencari jalan keluar, hancurlah fondasi sense of belonging (rasa memiliki) yang seharusnya dirawat bersama. Tidak ada lagi daya rawat atas rumah bersama tersebut. Yang ada adalah mereduksi dan merusak yang sudah ada.
Jika kampus diperlakukan secara transaksional dan diobrak-abrik demi ego sesaat, almamater direduksi sekadar menjadi properti panggung teater demi popularitas segelintir pengurus. Kampus yang seharusnya menjadi tempat persemaian akal budi justru dikorbankan demi kepuasan impresi digital yang fana.