MENGAPA Jokowi dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bisa curi start kampanye? Ya, karena partai lain terjebak dalam ”ketakutan” dengan Prabowo Subianto.
Partai yang diikat dalam koalisi istana, secara psikologis, tidak ingin mendahului Prabowo. Ikatan dalam kekuasaan menciptakan swasensor yang membuat mereka memilih main aman.
PSI kan juga koalisi? Malah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berdarah biru PSI. Ada juga menteri PSI. Nah, itulah faktor Jokowi.
Jokowi tentu merasa memiliki saham terbesar dalam pemerintahan sekarang. Ia menjadi tokoh kunci yang mengantar Prabowo duduk di singgasana istana. Cerita era pilpres tak perlu ditulis lagi karena Anda pun sudah paham.
BACA JUGA:Jokowi Pakai Jalur Gelar Adat
BACA JUGA:Jumhur Hidayat, Musuh Jokowi yang Dirangkul Prabowo
Prabowo pun mengakui bahwa Jokowi adalah guru politiknya. Adakah murid yang berani melawan guru?
Partai lain dalam mengekspresikan diri, sebatas acara internal. Misalnya, HUT partai. Atau, acara ketua umumnya meluncurkan buku.
Isinya pun tetap memuji Prabowo. Contohnya, acara milad PKB. Itu lebih kental sebagai acara Prabowo. Para kader PKB pun memakai kaus putih bertulisan ”Prabowonomics”.
Derrr... Itu langsung membuat Prabowo semringah. Cak Imin, ketum PKB, juga semringah. Mereka pun pidato saling memuji.
Bahlil Lahadalia, ketua umum Golkar, memilih acara peluncuran buku. Tetap juga tokoh utamanya Prabowo di acara itu. Isinya pun tetap saling memuji antara Prabowo dan Bahlil.
BACA JUGA:CLS dan Ijazah Jokowi
BACA JUGA:Jokowi Harus Hadir di Pengadilan Ijazah Palsu
Nun di tempat lain, Jokowi mencari pesona. Bukan untuk Prabowo. Melainkan, berkampanye untuk diri sendiri. Untuk anaknya. Untuk PSI. Tidak ada teriakan ”hidup Prabowo!”. Dengan metode baru, yakni menerima gelar adat dari para tokoh lokal. Sudah ke Lampung. Juga, NTT.
Kampanye Jokowi akan terus berputar. Sudah ada jadwalnya, 22 Agustus ini ke Kalimantan, hadir di acara adat Dayak. Bisa ditebak, Jokowi bakal menerima gelar adat. Gelar ke-16.