BACA JUGA:Film The Odyssey Dongkrak Penjualan Novel Homer hingga 700 Persen di Inggris
Selain mengerjakan penerjemahan ulang, Wilson juga merilis kumpulan esai berjudul Crossing the Wine-Dark Sea.
Buku tersebut memuat pembahasan panjang mengenai proses menerjemahkan The Odyssey. Serta refleksi tentang cara karya-karya dunia kuno terus ditafsirkan kembali pada masa modern.
Dalam wawancaranya, Wilson juga membahas filsafat Stoik. Juga keterbatasan manusia dalam mengendalikan agar karya maupun dirinya diterima publik.
Menurutnya, kesadaran bahwa seseorang dapat disalahpahami atau tidak disukai menjadi pengingat. Terlebih terkait hal-hal yang berada di luar kendali.
BACA JUGA:Matt Damon Dipuji Tampil Fenomenal dalam The Odyssey, Disebut Sejajar dengan Legenda Hollywood
BACA JUGA:Epos The Odyssey, di Balik Kepahlawanan Ada Peran Besar Perempuan
Bagi Wilson, mempelajari Yunani dan Romawi kuno sangat menyenangkan. Apalagi ia ingin memahami bagaimana kebudayaan tersebut terus ditemukan kembali.
Juga dibayangkan ulang oleh masyarakat pada berbagai zaman. Pandangan itu sejalan dengan pekerjaannya menerjemahkan kembali karya klasik. Itulah yang membentuk perjalanan kariernya. (*)