Dari sisi kualitas suara, Apple Music dapat menjadi pilihan bagi pengguna yang ingin menikmati musik dalam suasana tenang. Juga mendengarkan detail lebih halus.
Audio Lossless memungkinkan sejumlah detail latar belakang dalam lagu yang kompleks terdengar lebih jelas.
Lirik juga dapat terdengar lebih jelas ketika menggunakan kualitas audio yang lebih tinggi. Namun, terdapat satu keterbatasan penting. Terutama bagi pengguna yang mengandalkan perangkat audio nirkabel.
Dukungan ALAC tidak tersedia pada headphone nirkabel. Artinya, pengguna membutuhkan headphone berkabel untuk memanfaatkan kemampuan audio Lossless Apple Music secara maksimal.
BACA JUGA:Netflix-Spotify Tak Kena Kenaikan PPN 12 Persen
BACA JUGA:Spotify Pasang Iklan Denny Caknan di Barcelona, Dukungan untuk Musisi Indonesia
Hal tersebut menjadi pertimbangan penting. Karena headphone dan earbud nirkabel semakin banyak digunakan untuk mendengarkan musik sehari-hari.
Di sisi lain, YouTube Music masih mengandalkan bitrate maksimum 256 kbps dengan codec AAC atau OPUS.
Usai Spotify Wrapped 2025, kini ada YouTube Music Recap 2025 yang bisa diakses oleh masyarakat Indonesia.--Google Play
Layanan tersebut belum menawarkan pilihan codec dengan bitrate tinggi seperti yang tersedia pada Apple Music.
Meski demikian, kualitas tersebut tetap dapat mencukupi kebutuhan pengguna. Terutama yang sekadar ingin menikmati musik sepanjang aktivitas sehari-hari. Tanpa mengejar kualitas audio tingkat tinggi.
BACA JUGA:Malam Indah Jungkook BTS: Masuk Top 10 Spotify Wrapped dan 2 Awards di MAMA 2023
Pada akhirnya, Apple Music lebih menarik bagi pengguna yang mengutamakan kualitas audio dan memiliki perangkat audio berkabel yang mendukungnya.
Sementara YouTube Music dapat menjadi pilihan bagi pengguna yang lebih mengutamakan kemudahan penggunaan. Juga kebutuhan mendengarkan musik sehari-hari.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa pilihan layanan streaming musik tidak hanya ditentukan oleh kualitas suara.