Pesan Kenabian untuk Generasi Algoritma

Jumat 04-09-2026,15:04 WIB
Oleh: Machsus *)


Machsus *)--

Kini, kita sedang menyaksikan lahirnya generasi yang mungkin belum pernah dikenal sebelumnya, yakni generasi algoritma. Mereka tumbuh ketika hampir seluruh ruang kehidupan bersentuhan dengan algoritma. Apa yang kita baca, tonton, beli, bahkan dengan siapa kita berinteraksi, semakin dipengaruhi sistem yang bekerja di balik layar digital.

Artificial intelligence (AI) bukan lagi gambaran masa depan. Ia telah hadir di ruang kelas dan laboratorium, industri dan kesehatan, transportasi dan pelayanan publik. Pengetahuan yang dahulu dicari berhari-hari kini tersedia dalam hitungan detik. Mesin membantu manusia menulis, menghitung, menerjemahkan, merancang, menganalisis, bahkan mengambil keputusan. Namun, justru ketika mesin semakin pintar, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: apakah manusia juga semakin bijaksana?

Kita semakin terkoneksi, tetapi belum tentu semakin dekat. Informasi semakin melimpah, tetapi belum tentu membuat kita semakin arif. Teknologi bergerak eksponensial, sementara kedewasaan manusia tidak selalu berkembang dengan kecepatan yang sama. Di sinilah Maulid Nabi Muhammad SAW memperoleh makna yang sangat kontemporer. Mengenang Nabi tidak cukup dengan menghadirkan cerita masa lalu, tetapi menghadirkan kembali pesan kenabian untuk menjawab persoalan setiap zaman.

BACA JUGA:Demam Pagar Besi Mal: Mengapa Arsitektur Defensif Menang atas Algoritma Ketakutan?

BACA JUGA:Ilmu Komunikasi UM Gelar ICODES 2026, Hadirkan Akademisi Dunia Bahas Etika Komunikasi di Era Algoritma

Al-Qur'an menyebut Rasulullah sebagai uswah hasanah, teladan yang baik (QS Al-Ahzab: 21). Rasulullah memang tidak meninggalkan petunjuk teknis mengenai AI, big data, robotika, atau algoritma. Tetapi beliau meninggalkan sesuatu yang semakin diperlukan ketika teknologi berkembang semakin jauh, yakni kompas moral untuk menentukan ke mana kemajuan diarahkan. Kesadaran inilah yang memberi makna pada cita-cita institusi yang tangguh, berdampak, dan mendunia sebagai karakter manusia yang dibentuk oleh pendidikan.

Ketangguhan Berbasis Ketelaudanan

Generasi algoritma hidup dalam paradoks. Mereka memiliki akses pengetahuan yang jauh lebih luas, tetapi juga menghadapi distraksi lebih besar, kompetisi lebih ketat, serta perubahan kompetensi yang semakin cepat. Lantaran itu, manusia masa depan tidak hanya membutuhkan intelligence, tetapi juga resilience, yakni kemampuan tetap teguh dan tumbuh di tengah perubahan.

Perjalanan Rasulullah memperlihatkan ketangguhan dalam bentuknya yang paling manusiawi. Thaif mengajarkan bahwa penolakan tidak harus melahirkan kebencian. Hijrah menunjukkan keberanian meninggalkan keadaan yang tidak lagi memungkinkan kehidupan berkembang untuk membangun kemungkinan baru. Madinah memperlihatkan kemampuan membangun masyarakat majemuk tanpa kehilangan prinsip. Tangguh bukan sekadar mampu bertahan. Tangguh adalah kemampuan berubah tanpa kehilangan nilai, menghadapi tekanan tanpa kehilangan harapan, dan bergerak cepat tanpa kehilangan arah.

Ini semakin penting di zaman digital. Teknologi mutakhir hari ini dapat segera menjadi usang. Karena itu, pendidikan tidak cukup membekali manusia dengan hard skills dan soft skills. Kita membutuhkan inner compass, kompas batin yang membedakan bukan hanya apa yang dapat dilakukan, tetapi juga apa yang patut dilakukan. Sebab kecepatan tidak pernah dapat menggantikan arah. Tanpa arah yang benar, semakin cepat kita bergerak, semakin cepat pula kita sampai ke tempat yang keliru.

Keberdampakan Penanda Kemajuan

Ketangguhan tidak boleh berhenti pada kemampuan menyelamatkan diri sendiri. Pertanyaan berikutnya adalah untuk apa kecerdasan dan ilmu pengetahuan digunakan? Dalam tradisi Islam terdapat ajaran sederhana tetapi mendalam, yakni sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

BACA JUGA:Tantangan Parenting Gen Z: Anak Diasuh Orang Tua atau Algoritma?

BACA JUGA:Memperluas Basis Pajak di Era Algoritma

Kategori :