Tiga mahasiswi semester tujuh Universitas Brawijaya (UB) melakoni debut di arena debat berbahasa Mandarin. Hasilnya? Mereka langsung melaju sampai final dan pulang membawa predikat runner-up alias juara kedua.
KEBANGGAAN terpancar di wajah tiga mahasiswi Sastra Cina UB: Ghina Imtinan, Alfi Syahrin Darmawan, dan Wafa Fauziah Salsabila. Mereka puas bisa naik podium sebagai runner-up Disway Mandarin Debate and Speech Competition 2026 kategori mahasiswa/umum. Padahal, baru kali pertama mereka mengikuti kompetisi tersebut.
Melaju spektakuler sampai ke final, Ghina dkk dihentikan oleh tim Universitas Negeri Semarang (UNNES) di partai puncak. Tim yang beberapa jam sebelumnya mereka kalahkan dalam penyisihan grup.
Siapa pun mengakui, kualitas tim debat UB tidak kaleng-kaleng. Bahkan moderator debat Novi Basuki berkali-kali memuji mereka. Ketiga mahasiswi itu tidak menyampaikan argumen dengan berapi-api. Sebaliknya, mereka kalem. Namun argumennya tertata dan terstruktur.
BACA JUGA:Profil Juara Disway Mandarin Debate & Speech Competition 2026: Unnes Sempat Salah Posisi Debat
BACA JUGA:Profil Juara Disway Mandarin Debate & Speech Competition 2026-Unnes: Dracin Antar ke Podium Juara
”Saya suka karena penjelasannya sangat rapi dan runtut,” kata Novi. ”Misalnya, mau mendebat poin A, mereka menyusun argumen menjadi poin-poin. Pertama, kedua, ketiga. Jadi mudah dipahami. Dan itu hanya bisa terjadi kalau mereka sendiri memahami persoalan. Bukan sekadar menghafal,” papar pengasuh rubrik Cheng Yu Harian Disway tersebut.
Namun, ketiga mahasiswi itu juga mengakui kualitas skuad UNNES. Persiapan lawan dinilai sangat matang, baik dari sisi materi maupun mental. Mereka sepakat, tim yang digawangi Aziza Nur Adriani dkk memang layak menjadi juara.
PUAS menjadi runner-up, ketiga anggota tim debat UB berfoto bersama juri dan Dirut Harian Disway Tommy C Gutomo usai penyerahan hadiah.-Boy Slamet-Harian Disway
Ghina mengungkapkan, babak final menghadirkan tekanan yang berbeda. Novi membuat peraturan baru, bahwa finalis tidak diperbolehkan membawa catatan apa pun ke podium. Padahal, kekuatan argumen mereka, salah satunya, adalah didukung data yang sangat solid.
”Sejak technical meeting memang ketentuannya seperti itu,” ujar Ghina. ”Tapi ternyata, di babak-babak awal, masih diperbolehkan membawa catatan,” ungkapnya.
BACA JUGA:Disway Mandarin Debate and Speech Competition 2026: Peserta Lebih Bersemangat, Muncul Juara Baru
BACA JUGA:Disway Mandarin Debate and Speech 2026, Sang Jawara UNNES Libas Tema Maritim
Hal itu membuat UB menyesuaikan persiapan. Mereka menyiapkan sejumlah data tambahan untuk memperkuat argumentasi. Data-data tersebut diketik rapi, dicetak, dan dibendel menjadi seperti buku yang sangat tebal. Setara skripsi.
Nah, sejam sebelum final, Novi mengumumkan bahwa larangan membawa catatan akan diberlakukan di final. Wafa mengakui, perubahan itu cukup membuat mereka kelimpungan. Mereka sempat ”menawar” ke panitia. ”Ini isinya data doang, Kak. Bukan argumen,” kata salah seorang dari mereka. Tapi aturan tetap aturan. Harus ditegakkan.
”Terlalu mendadak pengumumannya. Kami jadi kesulitan untuk catch up materinya lagi,” ungkap dia. Alhasil, data-data yang hendak digunakan harus diingat dan dipadatkan ke kepala.