Matinya Kepakaran Kita?

Rabu 23-09-2026,17:32 WIB
Oleh: Machsus *)

Dunning-Kruger Effect

Di sinilah Dunning-Kruger Effect menjadi relevan. Fenomena yang diperkenalkan David Dunning dan Justin Kruger (1999) ini menjelaskan bagaimana keterbatasan pengetahuan atau kompetensi dapat membuat seseorang kesulitan mengenali kekurangannya sendiri. Persoalannya bukan sekadar tidak tahu, tetapi tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.

Sebagai orang yang menyukai catur, saya sering membayangkannya melalui papan catur. Seseorang yang baru belajar mungkin segera memahami bagaimana pion bergerak, benteng melangkah, dan kuda melompat. Ia merasa permainan itu cukup sederhana. Namun, semakin mendalami catur, semakin banyak kompleksitas yang terlihat. Kompleksitas berpadu di antara posisi, tempo, ruang, struktur pion, kombinasi, hingga konsekuensi beberapa langkah ke depan.

Papan yang sama, 64 petak yang sama, tetapi kedalamannya terlihat berbeda bagi mereka yang benar-benar mempelajarinya. Begitulah pengetahuan. Sedikit tahu dapat membuat kita merasa banyak tahu. Semakin banyak belajar, semakin sadar betapa banyak yang belum kita ketahui.

Inilah tantangan pendidikan tinggi, termasuk di kampus perjuangan ITS. Kampus tidak semestinya hanya menghasilkan manusia yang pandai menjawab, tetapi juga manusia yang tahu kapan harus bertanya dan kapan harus mengakui keterbatasannya.

Pendidikan harus menumbuhkan kerendahan hati intelektual (intellectual humility). Bukan rendah diri, melainkan keberanian mengatakan, “Saya tahu” ketika memang tahu. Juga menyampaikan “Saya belum tahu” ketika memang belum tahu. Dan, dengan lapang dada menyatakan, “Saya keliru” ketika bukti menunjukkan saya keliru.

Lantaran itu, para pimpinan dan segenap pendidik di perguruan tinggi perlu terus berkontemplasi. Apakah kita sedang melahirkan manusia yang semakin berilmu, atau sekadar manusia yang semakin percaya diri bahwa dirinya berilmu?

Merawat Ekosistem Kepakaran

Namun, mengakui kepakaran bukan berarti menempatkan pakar di atas singgasana kebenaran. Pakar dapat keliru. Profesor dapat salah. Teori dapat tumbang ketika ditemukan bukti yang lebih kuat. Justru di situlah kekuatan ilmu pengetahuan, karena menyediakan cara untuk mengetahui bahwa kita mungkin salah sekaligus mekanisme untuk memperbaikinya.

Lantaran itu, yang perlu dirawat bukan kultus terhadap pakar, melainkan ekosistem kepakaran.  Penghargaan terhadap data, metodologi, pengalaman, peer review, integritas akademik, keterbukaan terhadap kritik, dan keberanian melakukan koreksi.

Para pakar pun harus bercermin. Gelar akademik bukan lisensi untuk selalu benar. Kepakaran pada satu bidang tidak otomatis menjadikan seseorang ahli dalam segala hal. Seorang pakar justru dituntut mampu menjelaskan ilmu secara jernih, jujur terhadap ketidakpastian, terbuka terhadap kritik, dan memahami batas kompetensinya.

Dalam pengambilan keputusan publik, kepakaran memang bukan satu-satunya suara. Ada aspirasi masyarakat, pengalaman lapangan, nilai, serta pertimbangan sosial dan ekonomi. Namun, ketika persoalan menyangkut kesehatan, transportasi, pangan, energi, lingkungan, infrastruktur, atau teknologi, pengetahuan berbasis bukti tidak semestinya disetarakan begitu saja dengan opini tanpa landasan metodologis.

Pada akhirnya, barangkali kepakaran tidak pernah benar-benar mati. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika kita kehilangan kemampuan membedakan informasi dengan pengetahuan, keyakinan dengan bukti, popularitas dengan otoritas keilmuan, serta rasa percaya diri dengan kompetensi.

Merawat kepakaran berarti menjaga masyarakat yang menghargai proses mencari kebenaran. Kritis tetapi tidak sinis, percaya diri tetapi tetap rendah hati, berani bertanya sekaligus bersedia mendengar. Lantaran, ancaman terbesar pada zaman serba tahu ini bukanlah ketidaktahuan, melainkan ketika kita tidak lagi menyadari bahwa kita tidak tahu.

Sejatinya, “matinya kepakaran” bukan hanya perkara para pakar. Bukan semata-mata tentang nasib para pakar, profesor, peneliti, atau kaum terdidik, melainkan perkara kita semua tentang seberapa tekun kita bersedia belajar, seberapa berani kita mengakui keterbatasan diri, dan seberapa rendah hati kita mengakui bahwa seluas apa pun pengetahuan yang telah kita miliki, selalu ada ruang untuk mengatakan, “Saya masih perlu belajar”. (*)

*) Wakil Rektor II Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Kategori :