Gadis Wajah Innocent Lakukan Pembunuhan Brutal di Gresik: Mitos Sosok Polos

Senin 05-10-2026,20:23 WIB
Oleh: Djono W. Oesman

Pearson memulai dari sebuah paradoks: masyarakat sering mempunyai gambaran tentang perempuan yang sangat berbeda dari gambaran sosok laki-laki dalam hal agresivitas. 

Laki-laki dibayangkan sebagai agresor, pemukul, penyerang, atau pembunuh. Sebaliknya, perempuan lebih sering dibayangkan sebagai pihak yang lemah, korban kejahatan, pengasuh, ibu, kekasih, atau sosok yang secara moral lebih ”innocent”. 

Pearson mempertanyakan asumsi tersebut. Menurutnyi, perempuan pelaku kekerasan berat memang lebih sedikit daripada laki-laki. Namun, hal itu tidak berarti perempuan tak memiliki kapasitas melakukan tindak kekerasan ekstrem. 

Semua atribut perempuan dalam persepsi masyarakat umum tersebut bisa membentuk bias persepsi: orang secara intuitif mungkin sulit membayangkan perempuan kurus kecil berwajah imut sebagai pelaku pembunuhan brutal. Sulit dibayangkan. 

Namun, penampilan fisik bukanlah indikator menentukan kapasitas agresi seseorang. Buku Pearson justru mengajak pembaca meninggalkan gambaran stereotipe tentang seperti apa ”seharusnya” seorang perempuan pembunuh itu terlihat.

Pearson memperlihatkan berbagai kasus nyata perempuan yang melakukan kekerasan serius. 

Ia membahas, antara lain, pelaku pembunuhan Karla Homolka, Dorothea Puente, Mary Beth Tinning, dan Karla Faye Tucker. 

Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa pelaku perempuan tidak memiliki satu ”wajah kriminal” tertentu. Malah, para pelaku tersebut tampak cantik, imut, innocent.

Mereka dapat muncul dalam berbagai posisi sosial, kepribadian, dan penampilan. 

Ada yang tampil sebagai perempuan biasa, ibu, pasangan, atau figur yang sama sekali tidak tampak seperti gambaran populer tentang seorang pembunuh.

Tema lain yang sangat penting adalah bagaimana masyarakat mencari ”alasan” ketika perempuan melakukan kekerasan. 

Pearson mengkritik kecenderungan untuk menjelaskan tindak kekerasan perempuan terutama melalui trauma, battered-woman syndrome, postpartum depression, atau keadaan psikologis tertentu. 

Menurutnyi, penjelasan semacam itu kadang diperlukan, tetapi dapat berubah menjadi cara untuk menganggap perempuan pada dasarnya tidak mampu menjadi pelaku kekerasan, dan karena itu harus selalu diposisikan sebagai korban.

Buku itu juga membahas kekerasan dalam hubungan intim dan menunjukkan bahwa perempuan dapat menjadi agresor, termasuk terhadap pasangan. 

Pearson lebih ilmiah soal pelaku kejahatan perempuan: Ukuran tubuh, kecantikan, kelembutan wajah, atau kesan innocent tidak dapat dijadikan indikator yang sahih untuk menilai potensi seseorang melakukan kekerasan. 

Kapasitas kekerasan adalah persoalan perilaku, situasi, emosi, sejarah hubungan, konflik, dan berbagai faktor psikologis-sosial. Bukan karena bentuk rahang atau ukuran tubuh tertentu.

Kategori :