Menfess dan Budaya Saling Curiga

Rabu 07-10-2026,23:00 WIB
Oleh: Verdi Yudha Pratama*

HMD Ilmu Sejarah Unair mendorong mahasiswa untuk tidak menjadikan informasi anonim sebagai dasar untuk langsung menuduh atau menghakimi seseorang. 

Informasi yang memiliki bukti perlu dibedakan dari kesaksian yang masih membutuhkan verifikasi, terlebih dari opini, dugaan, atau spekulasi. Kritik tetap penting, tetapi kritik akan lebih kuat ketika dibangun dari informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sikap tersebut tidak berarti membatasi mahasiswa untuk bersuara. Justru, ruang diskusi akan menjadi lebih sehat apabila kebebasan berpendapat disertai kebiasaan memeriksa sumber, memahami konteks, dan membuka ruang klarifikasi. 

Bagi mahasiswa ilmu sejarah, pendekatan ilmu sejarah dapat menjadi salah satu bekal untuk membangun kebiasaan tersebut dalam kehidupan digital sehari-hari.

Menfess sebagai Ruang Refleksi

Jika hari ini menfess telah menjadi bagian dari kehidupan mahasiswa, yang perlu dibangun bukan sekadar kemampuan untuk berbicara, melainkan juga kemampuan untuk membaca. 

Ruang anonim dapat menjadi tempat menyampaikan pengalaman dan kritik, tetapi tidak seharusnya berubah menjadi ruang untuk memperbesar prasangka. Informasi yang beredar perlu ditempatkan sebagai sesuatu yang harus dipahami, diperiksa, dan bila perlu diverifikasi.

Pada akhirnya, persoalan menfess bukan hanya tentang siapa yang mengirim sebuah tulisan. Persoalannya adalah bagaimana kita memperlakukan informasi setelah membacanya. 

Tidak semua yang ramai berarti benar, tidak semua yang anonim berarti salah, dan tidak semua nama yang disebut otomatis bersalah. Di tengah derasnya informasi digital, kemampuan untuk berhenti sejenak dan bertanya ”sumbernya dari mana?” justru menjadi hal yang makin penting. (*)

*) Verdi Yudha Pratama adalah ketua Himpunan Mahasiswa Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga 2026.

 

Kategori :