JABATAN wakil presiden Republik Indonesia bukan sekadar posisi pendamping presiden, melainkan juga bagian penting dari kepemimpinan nasional. Sejak Mohammad Hatta hingga Gibran Rakabuming Raka, Indonesia telah memiliki empat belas wakil presiden dengan latar belakang pendidikan, pengalaman, dan kompetensi yang beragam.
Perjalanan mereka memperlihatkan perubahan kriteria kepemimpinan nasional, dari intelektualitas dan pengalaman perjuangan menuju kombinasi pengalaman politik, kemampuan manajerial, serta tuntutan profesionalitas dalam pemerintahan modern.
Mohammad Hatta merupakan teladan awal perpaduan intelektualitas, integritas, dan profesionalitas. Berbekal pendidikan ekonomi di Belanda, Hatta tidak hanya menjadi tokoh pergerakan kemerdekaan, tetapi juga pemikir yang menawarkan gagasan ekonomi kerakyatan dan koperasi.
Soekarno-Hatta disebut sebagai ”Dwitunggal”, dua pemimpin yang menyatu menjadi satu. Keduanya punya personalitas yang sangat berbeda, ”opposites attract”. Soekarno flamboyan, orator ulung, dan punya kepercayaan diri tinggi. Hatta pemalu dan sedikit bicara.
BACA JUGA:Tiga Skenario Gibran dan Pertarungan di DPR Pasca-Putusan Mahkamah Konstitusi
BACA JUGA:Demokrat Belum Bahas Hak DPR soal Putusan MK Ijazah Gibran
Dua kepribadian itu saling menyatu, saling mengisi. Iilmuwan politik Herbet Feith menyebut Soekarno sebagai ”solidarity maker” , sedangkan Hatta adalah ”administrator’’. Soekarno penggalang massa jempolan, Hatta ahli manajemen dan administrasi.
Keduanya punya kesamaan latar belakang sebagai pejuang kemerdekaan. Perbedaan tabiat dua tokoh itu bisa disatukan oleh kesamaan visi sebagai sesama pejuang kemerdekaan.
Intelektualitasnya tecermin dalam kemampuan menghubungkan teori ekonomi dengan persoalan bangsa. Profesionalitasnya terlihat melalui sikap disiplin, kesederhanaan, dan tanggung jawab terhadap negara.
Hatta menunjukkan bahwa kepemimpinan berkualitas tidak cukup dibangun melalui kekuasaan, tetapi juga harus berlandaskan pengetahuan, moralitas, dan pengabdian.
BACA JUGA:Menimbang Usulan Pemakzulan Gibran di Parlemen: Cukup 25 Suara, Siapa Berani Mulai?
BACA JUGA:Surat Usul Pemakzulan Gibran Beredar di DPR, Begini Tanggapan Istana, NasDem, dan PDIP
Di zaman Orde Baru Indonesia punya wakil presiden dengan latar belakang yang beragam. Presiden Soeharto memegang rekor sebagai presiden terlama selama 32 tahun. Selama memerintah, Pak Harto didampingi oleh enam wakil presiden dengan latar belakang yang beragam.
Wapres pertama adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Ia dikenal melalui kepemimpinan dan kontribusinya dalam pemerintahan. Wapres selanjutnya, Adam Malik, menonjol dalam diplomasi dan hubungan internasional.
Kemudian, Umar Wirahadikusumah dan Try Sutrisno membawa pengalaman militer. Lalu, Sudharmono memiliki pengalaman panjang dalam administrasi pemerintahan. Terakhir B.J. Habibie yang membawa keahlian teknologi.