SIDOARJO, HARIAN DISWAY – Sebanyak 5.930 pondok pesantren di Jawa Timur teridentifikasi berada di wilayah dengan potensi risiko bencana kategori tinggi, Sabtu 10 Oktober 2026.
Jumlah tersebut mencapai lebih dari 79 persen dari total 7.430 pesantren yang terdaftar di Kementerian Agama (Kemenag) di wilayab Jatim. Kondisi itu sekaligus menjadi ancaman serius bagi keselamatan ratusan ribu santri yang menetap di dalam lingkungan pondok.
Data memprihatinkan itu diungkapkan oleh Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Jawa Timur, Gatot Soebroto. Dalam pembukaan Focus Group Discussion (FGD) Pesantren Tangguh Bencana (Pestana) yang digelar di Hotel Neo, Sidoarjo, Jumat lalu.
FGD yang digagas BPBD Jatim bersama program Siap Siaga Jatim itu digelar khusus untuk merancang pedoman pelaksanaan Pestana.
Langkah strategis itu dibentuk sebagai refleksi atas serangkaian insiden bencana yang menimpa fasilitas keagamaan di Jatim. Termasuk musibah runtuhnya bangunan musala di Ponpes Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo, pada 29 September tahun lalu.
BACA JUGA:BPBD Jatim Gencarkan Water Bombing, Padamkan Kebakaran Gunung Buthak & Kawinajang
BACA JUGA:Gandeng IGI, BPBD Jatim Gelar Training of Facilitator Sekolah Aman Bencana
"Setelah kita overlay data Kemenag dengan peta multi-hazard bencana, tercatat sebanyak 5.930 pesantren berada di wilayah dengan potensi risiko tinggi. Bencana yang menimpa sejumlah pondok setahun terakhir ini menjadi pembelajaran penting bagi lahirnya gagasan Pestana," ujar Gatot.
Tingginya potensi risiko bencana di lingkungan pesantren tersebut dinilai membutuhkan penanganan cepat dan terstruktur.
Kabid Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kanwil Kemenag Jatim H. Imam Turmidi mencatat, ada sekitar 660.437 santri yang beraktivitas harian di ribuan lembaga tersebut.
"Jumlah santri sangat banyak dan kompleks, mayoritas berada di daerah rawan bencana. Karena itu, kami sangat mendukung rintisan pedoman Pestana ini," tutur Imam.
BACA JUGA:Progres Pembangunan Ponpes Al Khoziny Capai 50 Persen, Menko AHY Janjikan Fasilitas Terbaik
BACA JUGA:Kisah Heroik Tim Rescue Surabaya Evakuasi Santri Ponpes Al-Khoziny di Tengah Puing Beton
Dukungan serupa disampaikan Ketua Rabithah Ma'ahid al-Islamiyah (RMI) PWNU Jatim, KH Abdul Hakim Hidayat. Mengingat sekitar 80 persen pesantren di Jatim terafiliasi dengan Nahdlatul Ulama, edukasi serta pelatihan kebencanaan dinilai sudah sangat mendesak.
"Perlu sekali dilakukan pelatihan berkelanjutan agar pesantren semakin tangguh, paham mitigasi, dan siaga saat ancaman bencana datang," tegasnya.