HARIAN DISWAY - Kepercayaan mutlak dan momentum kebangkitan menjadi fondasi kuat Oracle Red Bull Racing dalam mengamankan masa depan kepemimpinannya. Hanya tiga hari pasca kemenangan krusial di GP Singapura, tim raksasa Formula 1 tersebut resmi mengikat sang CEO sekaligus Kepala Tim, Laurent Mekies, dengan perpanjangan kontrak jangka panjang hingga akhir musim 2031.
Langkah strategis ini memperkokoh era baru Red Bull yang tak hanya sukses melakukan transisi kepemimpinan pasca Christian Horner, tetapi juga membuktikan taji mesin mandiri Red Bull-Ford Powertrains di tengah ketatnya persaingan F1 2026.
Laurent Mekies resmi memperpanjang masa baktinya bersama Oracle Red Bull Racing hingga akhir musim 2031. Keputusan ini diambil setelah perubahan haluan impresif yang ditunjukkan tim raksasa Formula 1 tersebut.
Mekies sebelumnya menggantikan Christian Horner sebagai Kepala Tim Red Bull pada Juli 2025 usai menjabat posisi serupa di tim junior, Racing Bulls. Kedatangannya bertepatan dengan momen kebangkitan Red Bull, ketika Max Verstappen finis hanya terpaut dua poin dari gelar juara dunia 2025.
Memasuki musim F1 2026, Red Bull mencatatkan sejarah baru dengan memproduksi mesin balap sendiri melalui divisi internal Powertrains bekerja sama dengan pabrikan Amerika Serikat, Ford.
BACA JUGA:Rwanda Bangun Megaproyek Sirkuit F1, MotoGP Tak Bisa Langsung Menumpang
BACA JUGA:GP Singapura 2026: Max Verstappen Juara Tanpa Drama
Setelah melewati paruh pertama musim tanpa kemenangan, RB22 langsung mencuri perhatian di GP Azerbaijan. Saat itu, RB22 finis hanya tertinggal 0,196 detik dari George Russell (Mercedes W17) yang meraih podium utama.
Performa RB22 kian tak membendung dalam beberapa pekan terakhir. Verstappen berhasil membawa Red Bull ke podium teratas secara beruntun di GP Bahrain dan GP Singapura.
Menariknya, RB22 belum membawa paket 11 peningkatan (upgrade) saat tampil di Azerbaijan. Paket pembaruan tersebut baru dipasang di GP Bahrain dan langsung memberikan dampak instan berupa kemenangan, yang kemudian berlanjut ke Singapura.
Di tiga sirkuit dengan karakteristik berbeda tersebut, RB22 mulai menjadi ancaman nyata bagi Mercedes. Dinamika sepersekian detik di Formula 1 terbukti berhasil mengubah peta persaingan di lintasan.
Laurent Mekies, kali pertama ia memimpin garasi Red Bull Racing pada Juli 2025--Twitter F1 Speed Indonesia @F1Speed_Indo
Tiga hari setelah kemenangan terbaru Verstappen di Singapura, Red Bull resmi mengumumkan perpanjangan kontrak Mekies. Langkah ini menyusul komitmen jangka panjang Max Verstappen yang memperpanjang kontrak hingga akhir 2030 pada Agustus lalu, serta rekan setimnya, Isack Hadjar, yang menandatangani kontrak baru bulan lalu.
"Hari ini, pemegang saham Red Bull, Mark Mateschitz, mengumumkan perpanjangan kontrak jangka panjang untuk Laurent Mekies sebagai CEO dan Kepala Tim Oracle Red Bull Racing hingga tahun 2031 dalam pengarahan tim di Milton Keynes usai kemenangan di Malaysia dan Singapura," tulis pernyataan resmi Red Bull.
"Kesepakatan ini menyusul perpanjangan kontrak Max Verstappen dan Isack Hadjar baru-baru ini, serta penandatanganan personel kunci untuk musim 2027 yang semakin memperkuat landasan jangka panjang tim untuk meraih kesuksesan," lanjut pernyataan tersebut.
BACA JUGA:Bagi Kimi Antonelli, Juara Dunia Tinggal Soal Waktu
BACA JUGA:Max Verstappen Juara Sprint Race GP Singapura Setelah Start Basah
Pemegang saham Red Bull, Chalerm Yoovidhya dan Mark Mateschitz, menegaskan bahwa kekuatan utama Red Bull terletak pada sumber daya manusia dan lingkungan kerja yang mendukung.
"Laurent memainkan peran penting dalam membimbing tim melewati periode transisi penting, sembari mempertahankan semangat kompetitif dan prinsip utama Red Bull. Perpanjangan kontrak ini mencerminkan kepercayaan kami pada kepemimpinannya dan visi jangka panjang tim. Kami memiliki ambisi besar dan berkomitmen menjaga momentum ini bersama-sama," ujar mereka.
CEO Corporate Projects and Investments Red Bull, Oliver Mintzlaff, turut memuji kepemimpinan Mekies sejak kembali ke keluarga Red Bull. Menurutnya, Mekies memadukan keahlian teknis, pemikiran strategis, dan pemahaman mendalam tentang karakter tim.
"Ia mewujudkan nilai-nilai utama Red Bull: keberanian, kerja tim, tekad, dan keinginan tak kenal lelah untuk bersaing di level tertinggi. Kontinuitas kepemimpinan adalah kunci keberhasilan berkelanjutan, dan kami sangat senang Laurent terus memimpin tim ini," tutur Mintzlaff.
Sementara itu, Laurent Mekies mengaku bangga dapat melanjutkan perannya di Oracle Red Bull Racing dan berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan oleh jajaran manajemen serta seluruh tim.
"Hal yang membuat tim ini istimewa adalah bagaimana setiap orang bersatu mengejar tujuan yang sama. Bersama tim Pierre Wache dan Ben Hodgkinson yang memegang peran sentral dalam membentuk masa depan kami, kami memiliki landasan kuat untuk tahun-tahun mendatang. Kami percaya ini barulah awal," kata Mekies.
"Menatap ke depan, kami akan terus menjunjung tinggi prinsip kami: bebas dalam berpikir, cepat dalam bertindak, dan berani dalam mengambil keputusan," tambahnya.
Pengumuman perpanjangan kontrak Mekies ini bertepatan dengan sorotan publik atas peluncuran buku autobiografi Christian Horner berjudul Drive: A Memoir of Speed, yang mengulas masa kerja serta kepergiannya dari Red Bull.
Tantangan besar kini menanti Mekies menjelang musim mendatang. Didukung fasilitas terowongan angin (wind tunnel) terbaru Red Bull yang siap beroperasi mulai 2027, mampukah Mekies membawa Red Bull tampil semakin dominan?
Apalagi, pengembangan mesin pembakaran internal (ICE) pada RB22 diproyeksikan meningkat hingga 50 persen pada 2027, sebuah sinyal bahaya yang wajib diwaspadai oleh seluruh tim papan atas.