Seperti yang dikatakan profesor Universitas de Murcia di bidang corpus linguistics dan pemerolehan bahasa kedua, Pascual Perez-Parede, ”pengaruh pembelajaran bahasa oleh gen AI sangat cepat dinormalisasi di masyarakat.
Oleh karena itu, adalah penting untuk tetap menjaga transparasi, akuntabilitas, dan ketelitian empiris untuk menyeimbangkan otoritas kecerdasan buatan atau AI.”
Senada dengan Perez-Parede, PROPLI menyimpulkan dalam pedoman dasar kurikulumnya bahwa pada dasarnya kurikulum linguistik bersifat adaptif sesuai dengan dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang cepat, tetapi tetap berjalan sesuai peraturan dan acuan-acuan yang ada sehingga dapat dipertanggungjawabkan dengan baik.
Kembali ke pertanyaan utama, apakah linguistik masih relevan di era kecerdasan buatan? Jawabannya adalah masih dan akan selalu relevan. (*)
*) Noerhayati Ika Putri adalah koordinator Program Studi Magister Ilmu Linguistik, Universitas Airlangga.
*) Ni Wayan Sartini adalah guru besar linguistik, Universitas Airlangga.