Jebakan kedua, yang lebih halus, adalah larut ikut-ikutan sinis tanpa arah, seakan tugas akademisi selesai begitu ikut menambah volume keluhan di media sosial.
Sikap yang tepat justru berada di antara keduanya: memvalidasi kegelisahan itu sebagai respons yang masuk akal terhadap kondisi struktural, sekaligus tetap menawarkan arah dan bukan sekadar gaung tambahan dari kegaduhan yang sudah ada.
Ketika mahasiswa bergurau ”kabur aja dulu”, misalnya, tugas dosen bukan menceramahi soal nasionalisme, melainkan bertanya balik dengan jujur: peluang konkret apa yang bisa ditawarkan kampus dan negeri ini agar pilihan bertahan terasa masuk akal, bukan sekadar slogan.
Soal tindakan, di sinilah akademisi paling sering gagal menunjukkan relevansinya. Sebagai pengajar manajemen olahraga, saya melihat sendiri bagaimana riset soal pengelolaan pusat kebugaran atau event olahraga bisa berhenti sebagai artikel di jurnal yang hanya dibaca sesama akademisi.
Padahal, pengelola gym kecil atau penyelenggara event komunitas di lapangan sedang betul-betul membutuhkan panduan praktis untuk bertahan secara bisnis.
Akademisi perlu berani turun mengotori tangan: menjadi mitra riset terapan bagi usaha kecil dan komunitas, membuka akses hasil kajian secara gratis, atau menerjemahkan temuan rumit menjadi konten yang bisa dipahami lewat media sosial –tanpa harus menjual independensi berpikir demi menyenangkan sponsor atau viral sesaat.
Diversifikasi peran boleh saja, asal batas kritis tetap dijaga; akademisi yang jadi konsultan atau kreator konten tetap harus berani mengatakan hal yang tidak enak didengar klien atau audiensnya, bukan sekadar jadi juru bicara berbayar.
Yang tak kalah penting, akademisi juga perlu memperjuangkan kondisi kerja mereka sendiri secara struktural –bukan diam-diam menanggung in this economy versi kampus sendirian sembari berpura-pura baik-baik saja di depan mahasiswa. Solidaritas ke dalam, sesama civitas academica, sama pentingnya dengan kontribusi ke luar kampus.
Anak muda hari ini tidak butuh akademisi yang berceramah panjang lebar soal keluhuran ilmu pengetahuan sembari menutup mata pada kenyataan ekonomi yang mereka hadapi sehari-hari. Mereka butuh bukti bahwa ilmu itu masih relevan dan berguna, bahkan in this economy sekalipun.
Dan, bukti semacam itu tidak pernah lahir dari menara gading. Ia hanya lahir dari akademisi yang mau turun, berpikir jernih, bersikap rendah hati, dan bertindak nyata di tengah zaman yang serba-tidak pasti ini. (*)
*) Bayu Ristiawan adalah dosen Program Studi S-1 Manajemen Olahraga, Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan, Universitas Negeri Surabaya.