ADA yang bilang kabinet Presiden Prabowo Subianto kabinet gemuk. Kabinet jumbo. Kabinet boros. Kabinet gemoy.
Namun, Prabowo menantang pengkritik yang menuduh kabinetnya boros. Ia menyebut Indonesia negara besar dan luas. Dengan demikian, dibutuhkan banyak menteri dan wakil menteri.
Logika presiden menyamakan Indonesia setara Eropa. ”Di Eropa ada 30 negara. Di sana ada 30 kabinet, ada 30 panglima TNI dan 30 kapolri. Sementara kita cuma satu kabinet,” katanya. Dasar itulah yang meyakininya bahwa kabinet yang dipimpin harus gemuk.
Padahal, kalau dibandingkan dengan presiden sebelumnya, kabinet sekarang jauh lebih gemuk. Pemerintah sebelumnya, menteri dibatasi 34 orang.
Prabowo memiliki 49 menteri. Wakil menteri 56 orang. Lembaga setara menteri 5 orang. Belum lagi utusan khusus presiden, penasihat khusus presiden, dan staf khusus presiden. Belum lagi Wantimpres yang berjumlah 26 orang. Wantimpres sebelumnya 9 orang.
BACA JUGA:Reshuffle Ketujuh Kabinet Merah Putih: Golkar Menguat, ‘Geng Solo’ Terkikis
BACA JUGA:Selamat Datang, Kabinet Jumbo!
Melihat postur itu, terasa lucu kalau Prabowo membantah boros dan tak efisien. Wantimpres, misalnya, digaji Rp76,5 juta. Naik 337 persen.
Gaji menteri Rp18 juta memang tak naik, tetapi jumlah menteri dua kali lipat. Belum wakilnya. Gaji kecil, tetapi mereka diguyur full fasilitas. Tambah menteri dan wamen otomatis tambah fasilitas. Yang kelihatan di mata saja: tambah rumah dinas, sopir dinas, dan mobil dinas.
Ada konsekuensi logis, kementerian harus ganti logo dan kop surat resmi. Papan nama juga harus baru. Pegawai kementerian juga tambah karena penambahan ditjen.
Prabowo lupa membandingkan kabinet Indonesia dengan yang sepadan. Amerika Serikat, yang penduduk dan wilayahnya lebih besar, hanya 15 menteri. Tiongkok yang berpenduduk 1,4 miliar memiliki 21 menteri dan 60 hingga 80 wamen. Indonesia bisa dibilang, negara yang paling gemuk kabinetnya. Saya belum menemukan negara yang kabinetnya lebih gemuk daripada Indonesia.
BACA JUGA:Wajah Jokowi di Kabinet Prabowo
BACA JUGA:Siapa Supermenteri Kabinet Prabowo?
Kalau kita lihat postur kabinetnya, Prabowo tak mempertimbangkan efektivitas dan biaya tinggi. Presiden ke-8 itu mengedepankan politik akomodasi. Ia merangkul semua kalangan. Kursi dibagi-bagi.
Bukan hanya untuk pendukungnya yang berkeringat saat pilpres. Tetapi, juga yang berseberangan. Bahkan, kelompok yang pernah menjatuhkannya.