Jersey dan Hasrat untuk Menjadi Bagian

Minggu 25-10-2026,14:30 WIB
Oleh: I Gede Wiyasa Mahardika Satra*

“Jadi bikin jersey, nggak?” Pertanyaan itu bisa muncul sebelum jadwal keberangkatan disepakati. Tujuan wisata masih dibicarakan, jumlah peserta belum pasti, tetapi urusan pakaian sudah mendapat tempat dalam percakapan.

Sesudahnya, grup WhatsApp menjadi ruang perundingan. Seseorang mengirim contoh desain. Yang lain mengusulkan warna. Ada yang meminta namanya dicetak di punggung. Ada pula yang langsung bertanya harga dan ukuran. 

Sekilas, itu hanya percakapan tentang baju. Namun, di balik kesibukan memilih warna dan mengumpulkan ukuran, ada kebutuhan manusia yang menarik: keinginan untuk menjadi bagian dari sesuatu.

Jersey memang lekat dengan olahraga. Warna, nomor, dan lambang membantu membedakan pemain serta tim. Akan tetapi, penggunaannya dalam keseharian menjangkau berbagai kegiatan. Reuni sekolah, perjalanan keluarga, pertemuan komunitas, hingga kegiatan sosial dapat memiliki jersey sendiri.

Pakaian itu menjadi cara sederhana untuk mengatakan, “Saya bagian dari kelompok ini.”

Dalam psikologi sosial, sebagian pengertian seseorang tentang dirinya berkaitan dengan kelompok tempat ia merasa menjadi anggota. Kita mengenali diri sebagai bagian dari keluarga, alumni sekolah, komunitas hobi, atau organisasi. Keanggotaan tersebut dapat menjadi sumber kebanggaan sekaligus tempat memperoleh penerimaan. 

Jersey membuat hubungan yang tidak kasatmata itu menjadi terlihat.

BACA JUGA:Sebulan Pembunuhan Misterius Istri Dokter di Cirebon: Saksi Diperiksa Lagi

BACA JUGA:Dari Ijazah ke Kompetensi Wisuda, UU Pelindungan Ketenagakerjaan, dan Peran LSP

Penelitian Putri, Hennida, dan Wahyudi mengenai identitas pendukung sepak bola Indonesia memperlihatkan bagaimana nyanyian, koreografi, dan jersey menjadi sarana mengekspresikan identitas. Temuan dalam lingkungan suporter tersebut membantu menjelaskan mengapa pakaian kelompok dapat memiliki arti yang melampaui fungsi praktisnya.

Pada rombongan keluarga, misalnya, jersey membantu orang saling mengenali di tengah keramaian. Namun, ada makna lain yang ikut dibawa. Nama keluarga yang tercetak di dada menyatakan sebuah ikatan. Foto bersama menjadi catatan bahwa pada suatu waktu, mereka berhasil menyisihkan kesibukan untuk berkumpul.

Begitu pula dalam reuni. Orang datang dengan perjalanan hidup yang berbeda. Ada yang menjadi pengusaha, pegawai, guru, atau sedang berjuang mencari pekerjaan. Ketika memakai jersey angkatan yang sama, mereka memiliki satu pintu masuk untuk kembali bercakap sebagai teman sekolah.

Keseragaman pakaian tentu tidak menghapus perbedaan keadaan hidup. Namun, ia dapat menciptakan suasana yang memudahkan orang mendekat. Percakapan tidak harus dimulai dari jabatan atau pencapaian. Cukup dari nama panggilan lama dan cerita tentang bangku kelas.

Di situlah nilai sebuah jersey mulai melampaui bahan dan ongkos cetaknya. Sebuah kegiatan mungkin selesai dalam beberapa jam. Pakaiannya dapat tinggal di lemari selama bertahun-tahun. Ketika ditemukan kembali, tulisan yang mulai pudar bisa mengantar pemiliknya kepada kenangan yang masih terang: perjalanan jauh, teman yang banyak tertawa, atau seseorang yang kini sudah tiada. 

Tidak semua pakaian mempunyai kemampuan seperti itu. Sebuah jersey memperoleh nilai emosional dari pengalaman yang menyertainya.

BACA JUGA:Santripreneur, dari Ngaji ke Nggaji

Kategori :