Kabar itu datang tiba-tiba. David Pandapotan Sirait telah tiada, Sabtu, 24 Oktober 2026.
David meninggal dunia usai bertanding basket di GOR Soemantri Brodjonegoro. Ia sempat dilarikan ke RS MMC yang berlokasi tak jauh dari sana, tetapi tim medis menyatakan nyawanya sudah tidak tertolong.
Direktur Utama PT Terminal Teluk Lamong (TTL) itu pergi meninggalkan jejak panjang di industri pelabuhan tanah air. Jejak seorang anak muda yang merayap benar-benar dari bawah.
Saya tertegun. Mengingat kembali percakapan kami tepat satu pekan sebelum beliau berpulang. Sabtu, 17 Oktober 2026. Layar ponsel saya membuka kembali pesan WhatsApp dari almarhum.
"Thx brother," tulis David saat itu.
"Bahasa nya membumi dibuat kau," lanjutnya.
Lalu ditutup dengan kalimat: "Loud and clear."
Pesan singkat itu dikirim David setelah membaca artikel Harian Disway. Judulnya: Ulah Teluk Lamong. Beritanya soal keberhasilan TTL menyabet dua penghargaan bergengsi di Singapura.
Berita Ulah Teluk Lamong yang terbit, Sabtu, 17 Oktober 2026.-Harian Disway-Harian Disway
Kata-kata loud and clear itu kini terngiang kembali. Jelas. Sama persis seperti cara hidup yang dijalaninya.
David orang Batak. Cita-cita masanya muda sederhana: jadi tentara. Ia ikut tes Akademi Militer. Lulus semua tahapan. Tapi garis tangannya tidak di militer.
Takdir membawanya ke Pelindo. Waktu tes penerimaan pegawai, pewawancara bertanya: "Bisa mengemudikan mobil?"
Jawabannya lincah: "Bisa lah. Darah Batak, darah sopir!"
Ia langsung diterima. Penempatan pertamanya: operator HT. David mengira HT itu handy talkie.
Ternyata Head Truck: truk gandeng raksasa pelabuhan. Yang susahnya minta ampun itu. Setir kiri lari ke kanan, setir kanan lari ke kiri. Namun, David bisa menyetir truk-truk itu di dermaga tanpa canggung.
Sembilan tahun ia melakoni hidup sebagai staf operasional. Mengoperasikan RTG, mengemudikan forklift, hingga jadi tally man pencatat peti kemas. Semua ia lahap habis.