Proyek Suncatcher memiliki pendekatan berbeda dibandingkan sejumlah perusahaan lain yang mengembangkan pusat data luar angkasa.
Google berencana membangun komunikasi berkecepatan tinggi antarsatelit. Sehingga beberapa wahana dapat menjalankan pekerjaan komputasi terdistribusi secara terpadu.
Sementara itu, pusat data luar angkasa yang dikembangkan SpaceX juga diperkirakan menggunakan komunikasi laser.
Namun, jarak orbit antarsatelit diperkirakan terlalu jauh untuk memungkinkan pembagian pekerjaan pemrosesan secara efektif.
BACA JUGA:Robot Paro, Efektif pada Lansia dan Autisme, Bisa Tenangkan Astronot Mars
Perusahaan lain, seperti Starcloud dan Cowboy Space, lebih berfokus menjalankan beban kerja inferensi AI pada masing-masing satelit secara individual.
Pengembangan Suncatcher juga memiliki keterkaitan dengan SpaceX. Alphabet, perusahaan induk Google, diketahui memiliki kepemilikan investasi yang signifikan.
Google dan SpaceX sama-sama membutuhkan roket Starship untuk meluncurkan pusat data orbital dalam skala besar.
Roket angkut berat yang masih dikembangkan SpaceX itu harus memiliki kemampuan penggunaan ulang secara cepat dan penuh. Sehingga rencana tersebut dapat diwujudkan.
BACA JUGA:Tiga Astronot Tiongkok Siap Rampungkan Tiangong
BACA JUGA:Ada Aplikasi yang Bantu Astronot Mengambil Foto Bumi, Pengguna Umum Bisa Akses!
Terdapat analisis yang telah melalui proses penelaahan sejawat. Analisa itu diterbitkan pada awal November 2026.
Ilustrasi Peluncuran Satelit Palapa A1 -Wikilmages-Pixabay