Formula E; Kemajuan Asia Tenggara (?)

Formula E; Kemajuan Asia Tenggara (?)

PERHELATAN akbar balapan mobil Formula E yang diselenggarakan di kawasan Pantai Karnaval, Ancol Jakarta Utara.-ISTIMEWA-

Saya tertarik menonton balap mobil Formula E beberapa sebab. Di antaranya sebagai pemerhati masalah lingkungan, saya ingin melihat langsung sehebat apa sih mobil balap yang dianggap ramah lingkungan itu?

Pada tanggal 4 Juni kemarin saya berkesempatan menonton balap mobil Formula E bersama anak saya yang memang hobby nonton lomba mobil Formula One. Suatu pengalaman baru. Saya tertarik menonton karena beberapa sebab, diantaranya sebagai pemerhati masalah lingkungan saya pengin melihat langsung sehebat apa sih mobil balap yang dianggap ramah lingkungan itu?, dan tentunya bagaimana ending dari perhelatan balap yang harus diakui …penuh nuansa ini.

Balap Formula E digagas di tahun 2011oleh presiden FIA Jean Todt , Alenjandro Agag dan Antonio Tajani, politisi iItalia yang memang mendukung elektrifikasi industry mobil, mengurangi emisi karbon dioksida. Lomba pertama digelar di Beijing Tiongkok tahun 2014 dan baru mendapatkan status kejuaraan dunia pada musim 2020-2021, jadi bisa dibilang memang balapan ini masih baru sejarahnya, dibanding Balap Formula 1 yang sudah ada sejak tahun 1950 dan MotoGP yang sudah berlangsung sejak 1949.

Penyelengaraan Formula E di Jakarta merupakan seri 9 untuk musim tahun ini. Penyelanggaraannya sejak awal mengundang rekasi pro kontra yang sampai mengait ke permasalahan politik baik di level DKI maupun level nasional, bahkan dikaitkan dengan tujuan menaikkan elektabilitas Gubernur Anies Baswedan untuk pencalonan Presiden. Pemindahan lokasi dari Monas ke Ancol akibat penolakan dari kalangan DPRD serta komentar miring serta pesimisme mengenai persiapan di Ancol yang hanya menyisakan waktu 3 bulan dan lokasinya masih berupa lumpur (bahkan ada tokoh partai yang katanya terjebak lumpur saat meninjau) mewarnai proses penyelenggaraannya. Dalam sejarahnya memang momen penyelenggaraan event olah raga sering dikaitkan dengan politik. Pertandingan Gladiator di jaman Romawi sering dikaitkan dengan pameran kejayaan pemerintahan sang kaisar yang memerintah pada saat itu. Tetapi tentunya tidak semua event olah raga. Jadi kalau event Formula E dimasukan dalam kancah politik, tentunya ajang ini jadi istimewa, malah jadi promosi acaranya dan pemilik lisensi/principal acara seneng juga, walaupun mungkin sedikit terheran-heran.

Baiklah kita tinggalkan masalah politiknya, mari kita lihat penyelenggaraan acaranya dan dampaknya kedepan bagi Indonesia. 

Dari pengamatan pada lokasi penyenggaraannya cukup representative. Membangun dari nol sampai menjadi lokasi event olah raga Internasional dalam waktu 3 bulan cukup bisa di apresiasi. Dari pengalaman saya bertahun-tahun bergelut dalam bidang konstruksi, saya bisa membayangkan pelaksanaannya membutuhkan campuran antara kemampuan teknis, dan decision making yang baik untuk melaksanakannya. Dalam pekerjaan konstruksi yang membutuhkan kecepatan waktu, maka yang paling penting adalah bagaimana cepat menentukan metoda, jenis kontruksi dan material yang akan digunakan. Sehingga pada saat ada berita ada tokoh partai meragukan kesiapan lokasinya karena kondisi masih berlumpur dan banyak kambing nya, dalam hati saya tersenyum saja, karena apabila dipilih metoda dan teknis konstruksi yang benar, hal tersebut bukan masalah. Di Indonesia sudah bertebaran para arsitek dan ahli konstruksi yang mumpuni, tinggal memilih metode dan teknik yang tepat untuk menanggulanginya. Di fasilitas lokasi event balapan formula E di Ancol  nampak yang merupakan konstruksi permanen adalah sirkuit balapnya saja, yang lain merupakan bangunan knock down. Hal tersebut merupakan keputusan yang tepat, karena dengan sistim knock down, bagian-bagian bangunan bisa dibuat secara parallel bersamaan dengan pembangunan sirkuit, dan kemudain di install di lapangan , sehingga tidak saling menunggu, menghemat waktu. Bangunan knock down bukan berarti tidak aman atau tidak kuat, karena teknologi bangunan knock down sekarang sudah sangat maju. Disamping itu konstruksi knock down memungkinkan untuk dipakai ulang, re use.

Lalu mengapa Formula E?. Kalau dilihat dari pola kebijakan Gubernur Anies Baswedan selama ini nampak ada komitmen untuk ramah lingkungan. Mulai dari memberi jalur khusus untuk sepeda, mengintegrasikan transportasi umum dengan Jaklingko nya yang maksudnya agar masayarakat lebih memakai transportasi umum daripada kendaraan pribadi, sehingga mengurangi polusi dan juga kebijakan sumur resapan yang masih kontroversial itu yang tujuannya untuk menyerap air hujan menjadi air tanah. Saya tidak mengatakan bahwa semua kebijakan tersebut sudah berhasil, tetapi yang jelas, komitmen nya ada. Dengan melihat jejak kebijakannya tersebut maka pemilihan event lomba Formula E yang digadang-gadang ramah lingkungan bisa dimaklumi. Dengan menyelenggarakan       Lomba Formula E akan memperkuat image Jakarta yang punya kebijakan ramah lingkungan sehingga event olah raga balap mobil nya pun yang ramah lingkungan. Disamping itu balap Formula E memang di design untuk street sirkuit, sehingga seharusnya bisa memanfaatkan jalanan kota yang ada, asal memenuhi syarat, yang membuat persiapan untuk sirkuit tidak khusus. Dengan pertimbangan ini lah maka dulu sempat mau dipilih lokasi di sekitar Monas, yang kemudian di tentang sehingga dipindah ke Ancol.

Lomba sudah dilaksanakan dan dinilai sukses, bahkan dikabarkan pihak principal memuji setinggi langit penyelenggarannya. Keberhasilan penyenggaraan balap Formula E ini bisa memberi kesan positif bagi Indonesia. Pertama bahwa tentunya menunjukkan bahwa Indonesia aman dan dalam kelompok garis depan negara-negara yang Insya Allah dalam proses pemulihan ekonomi akibat Pandemi Covid 19, buktinya event Internasional dengan menghadirkan penonton yang begitu banyak sudah bisa berlangsung, Dengan disiarkannya acara ini secara langsung ke sekitar 120 negera di dunia, bisa mempromosikan  bahwa Indonesia sudah aman untuk dikunjungi wisatawan mancanegara, wabah covid 19 Insya Allah sudah bisa dikendalikan . Kedua menunjukkan komitmen Indonesia untuk mendukung kegiatan yang ramah lingkungan, sesuai yang selalu digaungkan Presiden Joko Widodo dalam beberapa kesempatan pidatonya di forum-forum Internasional. Presiden sendiri hadir dan meresmikan acaranya, serta para elit politisi yang tadinya dikesankan berseberangan bisa duduk bersama menyaksikan acara dengan gembira. Happy Ending nampaknya. Tinggal kita lihat apa dampak kedepannya bagi Indonesia, paling tidak kita bisa berbangga sebagai negara Asia Tenggara pertama yang menyelenggarakannya. Kalau Malaysia dan Singapore pernah menyelangarakan Formula 1, kita duluan menyelenggarakan lomba Formula E, lomba mobil masa depan?, mungkin, seperti ramalan-ramalan bahwa Indonesia adalah wakil kemajuan masa depan bagi Asia Tenggara. Semoga, AAmiin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: