Pasuruan artikel

Thrifting di Surabaya Makin Mudah, Kondisi Nomor Satu, Merek Belakangan

Thrifting di Surabaya Makin Mudah,  Kondisi Nomor Satu, Merek Belakangan

SUASANA bazar thrift di atrium Grand City Mall, Minggu 20 November 2022. Pengunjung tak perlu berdesakan dan berpanas-panas saat berbelanja. -Gusti Ayu-Harian Disway-

SURABAYA, Harian Disway - Thrifting sudah naik level. Dulu, aktivitas berburu barang bekas dilakukan di tepi jalan. Atau pasar. Yang paling legendaris di Surabaya, mana lagi kalau bukan TP5 atau TP Pagi. Alias Tugu Pahlawan. Tiap Minggu, ada bazar barang bekas impor. Pembeli harus mengubek-ubek tumpukan baju untuk menemukan item yang bagus. Begitu dapat, harus dicuci belasan kali sebelum dipakai.

Namun, kini thrifting sudah masuk mal, marketplace, hingga acara-acara festival. Penggemarnya makin meluas. Tak hanya pelajar dan mahasiswa dengan bujet terbatas. Para pekerja pun menikmati serunya thrifting.

Surabaya menjadi salah satu kota yang sering mengadakan festival thrifting. Yang terbaru adalah Cuan Market Vol. 1 di Grand City, pada 16-20 November lalu. Lokasi di dalam mal membuat pengunjung nyaman berbelanja. Tidak perlu berpanas-panas atau berdesakan.

Rata-rata pembeli punya indikator yang sama dalam memilih barang. Nomor satu adalah kondisi fisik barang. Kemudian harga. Baru yang terakhir merek. ’’Enggak liat brand, tapi fungsinya,’’ jelas Muhammad Reza, pengunjung Cuan Market yang hobi nge-thrift kemeja flanel.

Hanny Rini, yang biasa thrifting atasan, sependapat dengan Reza. ’’Enggak disengajain cari yang branded. Kalau enggak dapat (branded) ya udah sih,’’ jelas dia. Namun, Hanny terbilang sering beruntung. Dia pernah mendapatkan blouse merek Zara dengan harga Rp 15 ribu. ’’Kayaknya kalau beli baru Rp 200 lebih,’’ ucap mahasiswi Universitas PGRI Adi Buana Surabaya itu.

Keberuntungan yang sama pernah dialami oleh Yasa Zachari, siswa SMKN 2 Surabaya. Waktu itu, ia mendapatkan dua sweter seharga Rp 150 ribu. Salah satunya keluaran Puma. ’’Biasanya itu minimal Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu,’’ ingatnya.  

Branded Mahal, Tapi Lebih Laku


PENGUNJUNG memilih deretan kemeja perempuan di salah satu stand Cuan Market di Grand City Mall. Seni thrifting adalah mencari barang berkualitas dengan harga murah. -Gusti Ayu-Harian Disway-

Para pengusaha thrift mengakui bahwa traffic penjualan makin tahun makin naik. Surabaya masih jadi pasar yang oke, di antara kota-kota lain. Apalagi untuk tipe barang bekas bermerek. Justru lebih gampang lakunya. Padahal, harganya lebih mahal.

Misalnya Secondbeib milik Septia Fadilah, yang menyediakan pakaian perempuan. Dia menjual barang-barang keluaran Uniqlo, Zara, dan H&M. Sebagian besar sudah laku sebelum event berakhir. Lebih laris lagi jika event diadakan di mal. Karena sesuai dengan segmentasi pembeli. ’’Kemarin banyak, tapi sekarang tinggal ini aja,’’ jelas Septia, menunjuk rak berisi deretan atasan Uniqlo yang bisa dihitung jari.

Andi Satriya termasuk yang suka thrifting barang branded. Meski harganya tidak bisa dikatakan murah banget. Ia, misalnya, pernah mendapatkan sweter Kenzo seharga Rp 350 ribu. Juga kemeja Lacoste Rp 87 ribu. Ada goresan pena kecil pada lengan kemeja itu. Tapi secara keseluruhan masih sangat layak dipakai.

’’Buat ganti-ganti kalau ngantor. Enggak kelihatan kok goresannya,’’ katanya. Andi mengaku tak sayang mengeluarkan uang untuk barang bekas. Karena, menurutnya, itu worth it. Sweter Kenzo-nya, misalnya, kalau baru harganya mencapai Rp 2,8 juta. ’’Enggak murah banget sih. Tapi kalau dibandingkan versi barunya, ya jauh. Lagian, kalau saya yang make, enggak kelihatan kalau barang bekas,’’ kata researcher di sebuah lembaga penelitian itu, lantas tertawa.  

Soal barang branded, Septia memberi penjelasan. Dalam dunia thrift, barang dalam karung (bal) yang didatangkan dari luar negeri dibagi menjadi beberapa kategori. Mereka menyebutnya kepala, badan, kaki, dan sampah. Pakaian bermerek dengan kualitas bagus, masuk kelompok kepala. Golongan badan berisi pakaian kualitas standar. Barang-barang itu dicuci bersih, disetrika, dikembalikan ke bentuk aslinya, lalu dijual.

Golongan kaki adalah pakaian yang penjualannya agak sulit. Sehingga harus memahami lokasi serta pembeli yang berpotensi, misalnya TP 5 atau Pasar Gembong. Sedangkan golongan sampah berisi pakaian yang tak layak pakai. Biasanya, oleh penjual, mereka dibuang ke penjahit agar didaur ulang.

Penjual tidak bisa memilih brand ketika membeli bal. Itulah yang membuat jarang ada thrift shop khusus merek tertentu. ’’Kayak beli kucing dalam karung. Apa yang didapat, ya itu yang dijual,’’ jelas Bagus Mahardhika, owner Boss Thrift Fashion Import.

Pasar Surabaya


CERMAT, pemilik stand Independent Thrift Ferry Prima memeriksa produk-produk dagangannya di Cuan Market. Jika terlalu sering ada event, keseruan thrifting akan berkurang. -Gusti Ayu-Harian Disway-

Sebagai salah satu pasar yang besar, di Surabaya sering digelar festival thrifting. Bazar berkali-kali diadakan dalam rentang waktu yang tidak terlalu lama. Lokasinya juga tidak jauh. Berkutat di situ-situ saja. Alhasil, pembeli jenuh. Penjual jadi sembarangan memberikan harga.

’’Jelek, karena jadwalnya kurang diatur,’’ keluh Ferry Prima Sanjaya, owner Independent Thrift, saat ditemui di Cuan Market. Berbeda dengan di Purwodadi, misalnya. Ferry punya satu cabang di sana. Pria asli Solo itu bercerita, bahkan sejak proses loading barang, pembeli sudah banyak. ’’Ditanyain, jual apa, Mas? Beli… beli... beli,’’ paparnya, menirukan ucapan mereka.

Bazar thrift di Purwodadi lebih tertata. Ada jadwalnya. Sesuai kesepakatan, event hanya dilaksanakan tiga bulan sekali. ’’Kadang harinya sama, tapi tempatnya berjauhan,’’ jelas Ferry. Kesepakatan itu, menurutnya, baik. Karena memberi kesempatan yang sama buat semua toko thrift.

Pria yang terjun ke dunia thrift shop pada Januari lalu itu menjelaskan, kini ia mengurangi ikut bazar di Surabaya. Lantaran harga saing yang mulai tidak masuk akal. Penjual baru berani memasang harga murah. Tanpa memperhitungkan biaya laundry, tenant, dan pekerja. ’’Ga tahu risiko, berani jual murah,’’ ketusnya.

Berbeda dengan pendapat Ferry, Bagus merasa ramai atau sepinya pengunjung bazar bergantung bagaimana penyelenggara mempromosikan acara. Menurutnya, pasar Surabaya masih ramai. Meski tidak konstan. ’’Misalnya Grand City sama Delta Plaza sama-sama ngadain kayak gini. Tetep aja bisa rame kalau EO-nya aktif promosi,’’ tuturnya.

Bagaimana dengan Anda? Suka nge-thrift juga? (*)

Sumber: