Mengajak Capres-cawapres Berucap Gong Xi Fa Cai: Ngrumangsani Hidup

Mengajak Capres-cawapres Berucap Gong Xi Fa Cai: Ngrumangsani Hidup

Semarak lampion dalam Imlek 2574 merupakan momentum yang indah. Karena itu, perayaan Imlek harus terpotret dijaga penuh kesan. Hening syukurnya tidaklah elok kalau diwarnai celoteh pilpres yang tidak santun. --

Selama era Orde Baru yang tidak membuka kesempatan untuk merayakan Imlek secara terbuka adalah “ruang pertapa” pergumulan dalam bernegara. Suatu bentuk “pembelajaran” yang berupa “saatnya bertahu diri” adanya kultur saudara sebangsa dalam NKRI. 

Tatkala tikar digelar untuk dirayakan, jangan ada “dusta yang membersit di hati”. Anggap saja era yang sebelumnya “menyembunyikan perayaan Imlek” adalah “tahapan untuk mengerti” babakan sejarah yang kini sedang mengalami penawaran baru guna merawat masa depan kolektif kita. 

Apa yang harus direnungkan tentang Imlek pastilah bahwa cuatan perayaannya secara kelembagaan dinegarakan berkat rida Presiden Gus Dur saat itu. Maka janganlah dipersepsi yang bukan-bukan mengenai apa yang dilakukan presiden masa itu kecuali menata ulang sejarah yang sedang dikavling-kavling oleh otoritas negara untuk "dimusnahkan". 

Di tengah kondisi “memuliakan yang singgah” justru kian ramai pula orang “mengobok persaudaraan”. Bahkan termasuk saat ini apabila pilpres dipenuhi prasangka. Mari mengendapkan jiwa dengan tetap menyadari bahwa suatu budaya yang ideologis dan teologis tidaklah dapat diamputasi oleh siapa pun.  

Maka biarlah budaya itu semarak dalam payung yang sama, Republik Indonesia melalui ikrar “bersatu kita teguh bercerai kita runtuh”. Kita semua yang berkulit warna-warni sedia selalu duduk dan bercengkerama bersama dalam Taman Surga Indonesia.

Perayaan Imlek tahun ini harus menjadi saat bagi “yang di sana dan yang di sini” menautkan cintanya kepada NKRI. Bukan ambisi mengeruk kekayaan negeri atau memboyong triliunan rupiah ke luar negeri tanpa mampu dideteksi.

Kita rekatkan persaudaraan. Bukan meretakkan persatuan. Teruslah untuk saling bergumul dalam pergaulan besar kebangsaan tanpa mencederai dan tiada henti mengembangkan rasa tahu diri. Iso ngrumangsani hidup di tanah Ibu Pertiwi.

Kalau sudah menyadari dan meresapi bahwa republik ini memberi ruang penghormatan tinggi: kita bersaksi biarlah lampion-lampion merah menyala tanpa perlu ditafisir bahwa itu sewarna dengan partai paslon capres-cawapres tertentu.

Warna merah berselisik kuning itu biarlah menghiasi jalan sejarah negara untuk sebarisan formasi berbangsa agar kita bisa saling berucap mesra: gong xi fa cai. Juga cái yuán g n g n, semoga kemakmuran terlimpahkan selalu. (*)

Oleh Suparto Wijoyo: Guru Besar Fakultas Hukum, dan pengajar Strategic Leadership Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: